LAGU PENGGUGAH SEMANGAT
LAGU PENGGUGAH SEMANGAT
Semalaman aku tidak tidur, berberes kamar karena baru kemarin sore aku sampai di kota perantauanku dalam menimba Ilmu ini. Ditambah ada rasa takut dan harap cemas, dimana besok merupakan hari pertamaku di semester tiga. Yah, Kota Surabaya, merupakan Kota metropolitan kedua setelah ibu Kota Jakarta, yang aku pilih sebagai kota untuk meneruskan studi di bangku perkuliahan.
***
Berlari terburu-buru aku menuju
halte bus di persimpangan jalan menuju Jln. Ahmad Yani pagi ini. Dengan agenda pukul 07.30 WIB aku harus sudah sampai di
kampus, mengingat ada jam kuliah 15 menit setelahnya.
Terlalu bersemangat mungkin, aku
tiba di kampus jauh dari yang sudah diagendakan. Hingga sarapan pagipun
terlupakan olehku.
Melihat jam di pergelangan tanganku,
yang menandakan masih ada waktu sekitar 45 menit waktu perkuliahan dimulai, aku
putuskan mencari warung terdekat untuk
mengisi perut yang sedari semalam belum ku isi. Dengan kembali melihat
pergelangan tanganku, memastikan masih ada waktu yang bisa aku gunakan untuk
mengisi perut gontaian kaki terus ku ayuh. Ditambah bunyi perut kosongku
semakin memberi semangat.
Sambil berjalan, diri ini menggerutu
melihat jalanan kampus masih sepi tak berpenghuni. "Semua itu karena aku
terlalu berlebihan dalam mempersiapkan hari pertama kuliahku di semester 3
ini," disambung dengan menertawakan diri sendiri.
Menapakkan kaki hingga memasuki
gang-gang kecil akhirnya ku menemukan sebuah warung yang sudah terbuka. Semakin dekat dengan
warung bertuliskan "Warung Sederhana" dengan ukuran tulisan yang
lumayan besar itu, semakin tercium bau
harum masakannya, yang semakin menambah bunyi dari perutku ini.
Langkah kaki ku percepat, setelah
melihat keadaan warung yang sudah tertata rapi dengan aneka lauk yang sudah
tersedia. Ditambah keadaan warung tersebut sedang sepi, seakan akulah pendatang
pertama di warung itu membuatku semakin bersyukur. Dengan harap, sesegera aku
memesan, sesegera itu pula aku akan dilayani dan perutku kan terisi.
Setelah mengisi perut, aku kembali
melihat jam tanganku. Bersamaan dengan itu dering ponselku berbunyi, ada pesan
masuk rupanya. Siapa gerangan yang menyapaku sepagi ini.
Usai mengirim pesan tanda
membalasnya. Perhatianku teralihkan dengan tingkah lucu seorang gadis kecil
dengan mengenakan seragam di dekat warung tersebut. Ia sedang membaca tulisan
di dalam bukunya. Gadis tersebut terus membacanya perlahan kata demi kata,
terbata-bata memang namun terkesan lancar. Hingga aku, yang tiada niat
mendengarkan apa yang ia baca menjadi terkesima mendengar baitnya. Terus ia membaca, sejauh itu pula akupun
dapat menangkap pesan yang terkandung dalam bacaannya.
"Pagi ini ku terbangun. Dari
mimpi indahku. Yang tak ingin berakhir. Ku awali dengan senyum. Hangat sinar
mentari. Sambut hari yang cerah. Ku ingat ku ingat ku ingat Pesan mama berdo'a
berusaha Semangat kata papa," ucapnya perlahan.
Sungguh indah kata-katanya, ada
dorongan semangat yang ku dapat setelah mendengarkan gadis kecil itu membaca.
Dibuat tercengang aku olehnya.
Demi menuntaskan pekerjaanku, dengan
merogoh kantong celana aku mencari uang untuk membayar makanan yang sudah aku
santap tadi. Seraya ku beranikan diri bertanya pada si penjual tentang anak
tersebut.
"Maaf ibu, adik kecil itu siapa
yah?," lirih suara tampak kebingungan dengan pertanyaan pertamaku.
"Oh, itu anak pemilik warung
ini nak. Namanya Syauqi, masih TK besar," jawab ibu yang ku duga pegawai
di warung itu setelah mendengar jawaban darinya.
"Mbak Syauqi suka sekali
bernyanyi. Yang barusan ia baca salah satu lirik lagu kesukaannya," tambah
ibu itu sambil membereskan tempat dimana aku makan tadi.
Jawaban yang diberikan ibu penjaga
warung itu membuatku tercengang. Lirik lagu katanya, lagu apa yah? Aku tidak
pernah mendengarnya.
Belum sempat pertanyaan susulan
dalam benak ini terjawabkan, terdengar suara wanita matang datang menghampiri
anak kecil itu. Seraya berkata, "sudah bisa baca belum kak? Semangat
donk,"
"Harus lancar yah kak, agar
ketika menyanyikan lagu ini di sekolah nanti, tidak salah liriknya,"
sambungnya.
Beberapa menit setelah itu, ponselku
berdering lagi. Namun kali ini tak ku gubris sapaannya. Aku sedang fokus
mendengar setiap kata dari pengucapan gadis kecil itu. Semakin Ku menyimak kata
demi kata yang keluar dari mulutnya, semakin Ku dibuat terkesima oleh pesan
didalamnya.
Siapa gerangan pencipta lagu
tersebut? Kagum sekali Ku dibuatnya, sangat menggugah semangat diri ini.
Belum selesai Ku memuji pencipta
lagu yang sedari tadi liriknya di eja oleh gadis tersebut, kali ini Ku semakin
dibuat takjub. Ternyata lagu tersebut merupakan lagu anak-anak. Ku ketahui saat
gadis itu bernyanyi setelah disetelkan oleh wanita yang dari tadi berbincang
dengannya itu. Ku duga, wanita itu adalah ibunya.
Usai setelan lagu itu berdendang,
ditandai dengan berakhirnya gadis kecil itu bernyanyi, Ku beranikan
mendekatinya.
"Adik kelas berapa Bu?,"
pertanyaan pemula Ku berikan pada wanita yang sedang sibuk menyisir rambut
gadis kecil itu.
"TK Besar Mas," sahut
gadis kecil, itu menjawab, disambut gelak tawa kami.
"Iya Mas, adik sudah mau masuk
kelas TK Besar, baru pagi ini masuk sekolah,"
***
Syukur ku panjatkan, waktu kuliah
yang tidak aku sadari sudah terlewati beberapa menit yang lalu ternyata tidak
terbuang percuma. Karena ternyata dosen pagi ini sedikit terlambat setelah Ku
baca isi pesan dari temanku. Ditambah ilmu yang aku dapatkan dari gadis kecil
di warung makan tadi memberikanku banyak motivasi dan inspirasi untuk terus
bersemangat.
Yah sambil berjalan menuju fakultas,
yang terletak di dekat pintu belakang kampus, ku terus pandangi layar handphone
mencari satu lagu penggugah semangat yang aku dapat dari seorang gadis
kecil tadi. Lagu itu berjudul, Menjadi Matahari ciptaan Ryan D’masiv, yang
dipopulerkan oleh Kirana, gadis cilik peraih juara pertama dalam lomba La Academia
SCTV.
Surabaya, 02 Januari 2017
Surabaya, 02 Januari 2017
Komentar
Posting Komentar