ANTARA GURU DAN KELUARGA





ANTARA GURU DAN KELUARGA





    Semalam, setelah menemani adik belajar, saya baru tersadar, ternyata perintah dan juga himbanuan sesosok manusia yang setiap pagi (kecuali hari libur) ditemui adik lebih dapat diterima olehnya daripada himbauan kami (keluarga), ini konteksnya dalam belajar kawan...

            Terbukti, malam itu, adik dengan lancarnya membaca tugas yang harus ia selesaikan. Tugas tersebut tentu dari sosok itu, manusia yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebenarnya tugas adik hanya sebatas menulis ulang apa yang sudah dicontohkan dalam buku tugasnya, namun dengan semangat, ia membaca tuntas apa yang harus ia tulis sebelum benar mengerjakannya. “FA, ef afa = FA, FI, ef ifi = FI, dst....” begitu terus ia membaca hingga huruf vocal terakhir (A, I, U, E, O).
            Mungkin tidak ada yang istimewa kejadian diatas, namun saya menemukan titik dimana sesosok guru lebih berpengaruh daripada keluarga dalam hal ini (Red, belajar). Karena apa? Adik saya, yang sekarang duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK), menyadarkan saya akan hal itu. Sekarang ia memasuki kelas TK Besar, yang tahun ajaran besok sudah akan menempuh Sekolah Dasar (SD).
            Ceritanya, di kelas sebelumnya, dengan gencar, keluarga kami terutama sang ibu sangat bersemangat mengajari adik untuk mau belajar, baik menulis juga membaca, namun respon yang diberikan adik biasa-biasa saja. Ia malah asyik dengan kegemarannya menggambar dan mewarnai, sering kali kami harus mati-matian merayunya untuk belajar agar cepat dapat mengenali huruf dan atau angka untuk dibacanya.
            Tidak jarang sikap adik yang enggan belajar membaca dan menulis itu, memunculkan koreksi untuk orang tuanya karena keterlambatannya memperkenalkan sekolah kepada adik. Kami tahu, harusnya sebelum adik duduk di bangku TK, dengan standart yang ada, adik harus sudah mengenyam pendidikan anak usia dini (Paud, sekolah untuk anak pra sekolah TK). Karena dengan adanya Paud, menjadikan adik lebih terbiasa dan mengenal dunia pendidikan sebelum ia benar bersekolah. Selain itu, sekolah tersebut akan menjadi bekal awal untuk anak seusianya dalam mengenal pendidikan.
            Pada dasarnya, alasan banyak tetangga menyekolahkan anak pada sekolah Paud karena beberapa hal diatas, namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa sekolah Paud juga dimanfaatkan para orang tua untuk melatih mental anak, mengajarkan bersosial serta mendidik anak agar mandiri di usianya yang masih belia itu. Namun karena beberapa factor, adik tidak bisa mengikuti sekolah tingkat Paud itu.
            Ntah didikan dari siapa? Contoh dari siapa? Atau mungkin sudah karakternya, adik termasuk sesosok anak yang mandiri. Mungkin kesulitan keluarga dalam menghimbau adik hanya terletak pada sisi kurang suka membaca dan menulis saja. Namun untuk anak seusianya, adik patut membanggakan. Dia pergi-pulang sendiri dari sekolah, tanpa harus ditemani kala di tempat belajar, mungkin awal kali sekolah saja ia harus diantar, namun selang beberapa hari dia sudah tidak perlu diantar atau semacamnya, adik bisa pergi-pulang sendiri dari rumah ke sekolah, begitu juga sebaliknya.
            Selaku keluarga, kami terlebih ibunya, yang mengetahui sikap adik yang sudah bisa mandiri dalam hal kecil sebagaimana cerita diatas, tidak sepenuhnya membiarkan adik berkembang begitu saja, keluarga tetap memantau perkembangan adik di sekolah, salah satunya melalui komunikasi dengan guru sekolah. Namun, adik tetaplah adik, meski mandiri tetap saja ia susah dan terkadang tidak mau jika diajak belajar membaca dan atau menulis. Dia lebih suka dan terlihat sangat asyik jika diajak menggambar atau mewarnai. Kegemaran adik itu juga sangat keluarga dukung, karena dengan begitu akan melatih kreatifitas dan otak kanan adik, sebagai bentuk aktualisasi dalam bidang seni.
            Hal semacam itu terjadi hingga memasuki tahun ajaran baru, dimana adik mulai duduk di kelas TK Besar (2016/2017). Dalam tahun ajaran itu, ada perubahan yang sangat mengagetkan keluarga, adik yang mulanya agak susah diajak membaca dan menulis (bukan berarti, adik tidak bisa membaca dan menulis), tiba-tiba dia mengeja sebagian huruf yang ia ketahui, mulai huruf vocal juga huruf lainnya, serta mampu membacanya.
            Mengetahui perkembangan yang ada pada adik jelas menjadikan keluarga lebih bersemangat dalam mengantarkan adik banyak mengenal hal baru, mulai dari huruf, abjad, nama buah, nama hewan dsb,. Ada keheranan yang muncul sebenarnya, setelah diteliti dan dicari tahu, ternyata guru-lah yang membuat adik mulai senang membaca dan menulis (seperti cerita diatas). “Wah adikku pintar sekali, banyak mengenali huruf dan suka membaca,” pujiku suatu ketika. “Tadi Bu Guru mengajarkan huruf-huruf ini, makanya adik bisa membaca,” timbalnya dengan tersenyum.
            Mulai dari kejadiaan itu akhirnya saya menyadari, bahwa sesosok manusia yang sudah mengabdikan diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dalam mencerdaskan anak bangsa, harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Karena dengan profesinya sebagai Guru, sesosok manusia akan menjadi panutan, menjadi teladan, terkadang juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak anak didiknya.
Untukmu guru, terimakasih tak terkira kami ucapkan kepadamu... 


Surabaya, Juli 2016
15:08 WIB


Kunjungi tulisan lainnya : http://fadilasn.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini