DOA ADALAH OTAK IBADAH
DOA ADALAH OTAK IBADAH
Ya Allah,
terangilah hati kami yang diliputi kegelapan dengan cahaya kasih-Mu.
Anugrahkanlah kami dengan limpahan ampunan dan rahmat-Mu. YaAllah, naungilah
kami dengan rindangnya pohon cinta-Mu. Ya Allah, tuntunlah mereka yang tersesat
dan bingung agar mengenal-Mu. Terangilah hati mereka yang diliputi kegelapan
dengan cahaya kasih-Mu.
Periharalah imanmu
dengan memperbanyak sedekah, bentengilah hartamu dengan mengeluarkan zakatnya,
dan tolakla gelombang-gelombang bencana dengan berdoa selalu. Satu hal yang
terpenting dalam hidup adalah berubahnya diri menjadi lebih baik. Doa yang baik
adalah doa yang menjadikan seseorang lebih baik dalam hidupnya.
Rasulullah SAW
berdabda, “Doa adalah otak ibadah (HR Tirmidzi).”
Penting kita
yakini karena keyakinan melebihi dari ilmu pengetahuan bahwa Allah senantiasa
mengabulkan setiap doa yang kita panjatkan. Allah SWT berfirman, “Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasannya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS
Al-Baqarah: 186).”
Mengapa pada ayat
tersebut Allah memerintahkan kita untuk berdoa? Bukankah Dia mahatahu kebutuhan
dan harapan kita, bahkan lebih tahu daripada diri kita sendiri? Di sini, ada
empat alasan: Pertama, doa memperjelas kedudukan kita sebagai hamba dan
Allah sebagai Al Khaliq. Memahami hakikat diri sebagai hamba akan menjadikan
kita rendah hati. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas kehendak Allah.
Imam Ibnu
Athaillah berkata, “Hendaklah doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan
kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan Tuhanmu.” Oleh karena
itu, seorang pendoa yang baik akan terhindar dari sikap sombong, malas, dan
bergantung kepada selain Allah.
Kedua, doa
sebagai sarana zikir. Allah menyuruh kita berdoa agar ingat kepada-Nya.
Sesungguhnya, ingat kepada Allah adalah rejeki yang tidak ternilai harganya.
Dengan mengingat Allah, hati kita tenang. Ketenangan adalah kunci kebahagiaan.
Sejalan dengan firman Allah, “Yaitu orang-orang yang berirman dan hati mereka
menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tentram (QS Ar-Ra’d: 28).”
Ketiga, doa
adalah target. Hidup manusia akan terarah apabila ia memiliki target dalam
hidupnya. Doa, hakikatnya, adalah tujuan, keinginan, atau target yang akan kita
raih. Saat kita mengucapkan doa sapu jagat misalnya, itulah target kita:
selamat dunia akhirat. Saat kita berdoa agar utang kita dapat dilunasi, itulah
target kita: bebas utang. Tentu target tidak akan pernah tercapai apabila kita
tidak mengusahakannya. Doa adalah pupuk, sedangkan ikhtiar sebagai bibitnya.
Tidak mungkin kita bisa panen jika kita segan menebar bibit. Jadi, doa yang
baik adalah doa yang disertai ikhtiar maksimal. Itulah iman dan amal saleh.
Keempat,
doa adalah penyemangat. Pada saat seorang hamba berdoa, tentu hamba tersebut
memiliki harapan, dan harapan akan melahirkan semangat. Semangat itu mahal
harganya karena semangatlah yang akan menentukan sukses tidaknya seseorang.
Pertolongan Allah hanya akan mendatangi orang yang bersemangat dan bersungguh-sungguh.
Bukankah saat kita bersungguh-sungguh kepada-Nya, Allah akan lebih
bersungguh-sungguh lagi kepada kita?
Doa adalah
saripati ibadah. Doa akan memperjelas posisi kita sebagai hamba dan Allah
sebagai Rabb yang menciptakan. Semakin mantap posisi ini, akan semakin
beruntung pula hidup kita. “Tiada daya dan kekuatan hanyalah karena Allah yang
Mahatinggi.” Oleh karena itu, doa akan membawa orang pada perubahan menjadi
lebih baik. Apa tanda-tanda orang yang suka berdoa?
Pertama, ia
memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. Doa adalah target kehidupan. Orang yang
bagus doanya akan terprogram hidupnya. Ia memiliki target dan perencanaan untuk
memenuhi target tersebut. Ketika ia memohon sesuatu kepada Allah, ia pun akan
dituntut untuk berikhtiar mendapatkan sesuatu tersebut. Konkretnya, ketika
meminta jodoh yang saleh misalnya, kita pun dituntut untuk memprogram dan
merencanakannya. Diantaranya membuat planning kapan kita menikah, apa
yang harus dipersiapkan, dimana mencari jodoh dengan kriteria saleh tersebut,
dan sebaginya.
Kedua, ia
akan bersikap taat terhadap peraturan Allah SWT. Orang yang suka berdoa tidak
akan mau tersentuh barang haram. Ia tahu bahwa doa akan terhalang ketika dalam
tubuh kita terdapat barang haram.
Ketiga, orang yang suka berdoa akan selalu berbaik sangka kepada Allah.
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Allah itu sesuai prasangka
hamba-Nya. Tidak enak, pahit atau menyengsarakan adalah presepsi kita. Allah
tidak akan memberikan ujian kecuali ada kebaikan di balik ujian tersebut.
Ketika Allah “tidak mengabulkan” doa kita, yakinlah ada yang lebih baik di
balik tidak terkabulnya doa tersebut. Dengan kata lain, ilmu kita belum sampai
pada hakikat tersebut.
Keempat, orang yang suka berdoa akan senang menolong
dan tidak mempersulit orang lain. Dia tahu bahwa Allah akan menolong dan
mempermudah urusan seorang hamba yang suka menolong dan mempermudah saudaranya.
Yakinlah semakin gemar kita menolong orang lain, akan semakin mudah pula doa
kita dikabulkan.
Sangat utama pula
apabila kita menjadikan setiap momentum sebagai doa yang akan membawa kebaikan.
Ketika turun hujan, berdoalah. Ketika berjalan, berdoalah. Sebaik-baik doa
adalah yang dicontohkan Alquran dan Rasulullah SAW.
Semoga bermanfaat.
*) Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jatim
(@gusali_bhs)
Tulisan ini pernah dipublikasikan Koran Harian Jawa Pos, Jumat 20
Mei 2016
Kunjungi
tulisan lainnya : http://fadilasn.co.id

Komentar
Posting Komentar