PERGULATAN KEILMUAN DAKWAH KPI
Oleh :
Luluk Fikri Zuhriyah*
Luluk Fikri Zuhriyah*
Dua hari mengikuti seminar nasional penguatan Jurusan
Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Konferensi International agama dan
televisi di Indonesia: etika dan problematika dakwahtainment, di Yogyakarta,
memperoleh banyak wawasan diantaranya adalah terkait dengan eksistensi keilmuan
KPI, jejaring prodi KPI se Indonesia, dan inspirasi pengembangan jurnal prodi
Komunikasi Islam milik KPI IAIN Sunan Ampel tercinta ini.
Pembahasan keilmuan KPI seolah tiada henti seiring dengan
dinamika pembahasan persoalan dakwah sebagai ilmu. Sebab cikal bakal keilmuan
KPI saling berkelindan dengan keilmuan dakwah. Beberapa orang yang masih
menyangsikan dakwah sebagai sebuah ilmu, namun diakui atau tidak, bahwa dakwah
telah diakui sebagai sebuah keilmuan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia) tahun 1982. Tentunya pergulatan ini melalui proses yang cukup
panjang dan memeras pikiran. Beberapa tahapan telah dilalui oleh dakwah untuk
mendapatkan statusnya sebagai ilmu, yaitu tahap konvensional atau tradisonal,
dimana dakwah hanyalah kegiatan kemanusiaan untuk mengajak orang berbuat baik.
Kemudian tahap sistematis, dimana ia telah dikaji dalam forum seminar, diskusi
ilmiah, sarasehan. Dan tahap ilmiah, yaitu dakwah telah tersusun sebagai ilmu
yang memenuhi syarat-syarat objektif, metodik, dan sistematik, setelah melalui
tahap sebelumya.
Proses perkembangan yang positif membuat ilmu dakwah semakin
hari semakin established. Ini dapat dilihat dari tahun ke tahun ilmu dakwah
mendapat sambutan dan pengakuan dari masyarakat, walaupun dari sisi usia
keilmuan dakwah tegolong muda. Khusus untuk Indonesia, pengakuan ini pertama
kali dapat dilihat dengan dibukanya jurusan dakwah pada fakultas yang berada
dalam naungan PTAIN maupun PTAIS di seluruh Indonesia baik tingkat S1 mapun S2.
Demikian halnya dalam seminar ini, proses peneguhan
eksistensi keilmuan dakwah KPI telah terjadi. Pembahasan seputar filosofi
keilmuan KPI hangat disikusikan, sesekali ada kebingunan juga, namun yang penting
menurut narasumber adalah “changing and changing”. Tidak apa-apa bingung,
itulah hakikat proses sebuah keilmuan yang tidak pernah berhenti untuk
difikirkan.
Salah satu hal penting yang dapat merefresh pikiran peserta
seminar, adalah terkait dengan upaya penajaman keilmuan KPI. Keilmuan KPI
menurut narasumber dari UGM, dapat dikupas melalui tiga domain kajian, pertama
konteks keilmuan “ komunikasi” kedua, sub domain komunikasi yakni “penyiaran,”
serta ketiga Islam sebagai warna nilai yang menjiwai dan memandunya. Penyiaran
sendiri merupakan bentuk sub-bidang dalam proses komunikasi massa yang
menggunakan media audio dan visual dengan implikasi yang spesifik dalam kaitan
dengan efek pada audiencenya. Jika keduanya digabungkan, beberapa pertanyaan
sentralnya adalah apakah memang kajian KPI dimaksudkan mengkaji domain
komunikasi dengan tekanan spesifik lebih menyoroti kajian penyiaran? Ataukah
dua-duanya menjadi fokus kajian dengan interest yang sama? Bagaimana nilai
keislaman diinternalisasikan sebagai nilai inti dalam proses tersebut?
Inilah yang menjadi pemikiran kita bersama sebagai pemerhati
KPI. Sebagai sebuah keilmuan, KPI yang kepanjangannya Komunikasi dan Penyiaran
Islam menurut penulis, mengandung dua aspek yang sekaligus menunjukkan ranah
kajiannya yaitu komunikasi dan penyiaran Islam. Komunikasi bila dikaitkan
dengan keilmuan komunikasi meliputi beberapa level, dari interpersonal sampai
kelompok. Penyiaran identik dengan komunikasi massa. Dengan demikian jika kita
kembali pada obyek kajian dakwah yang juga merupakan realitas obyek kajian KPI
yang terdiri dari subyek, mitra, pesan, media dan efek dakwah maka sub domain
komunikasi interpersonal, kelompok dan massa, juga tidak dapat diabaikan dalam
melihat realitas obyek kajian KPI. Internalisasi nilai keislamanpun harus
nampak didalamnya.
Setuju atau tidak setuju, hal ini merupakan proses untuk
meneguhkan KPI sebagai salah satu pembidangan keilmuan yang ada dalam keilmuan
dakwah. Untuk itu sambil menyelam minum air, sambil tetap meneguhkan keilmuan
dakwah KPI kita tingkatkan beberapa hal yang digunakan untuk meningkatkan
eksistensi KPI, dengan mengembangkan konsentrasi, menunjukkan excellensinya,
serta meningkatkan sarana prasarana untuk memajukannya. Beberapa Fakultas
Dakwah PTAI, telah membuka konsentrasi yang beragam untuk mewujudkannya
misalnya, konsentrasi public speaking, jurnalistik, broadcasting, public
relations, berada dibawah naungan KPI.
Selain itu KPI telah mempunyai FORKOPIS (Forum Komunikasi
dan Penyiaran Islam) sebagai wadah untuk komunikasi, akselerasi dan penguatan
serta pemberdayaan Jurusan KPI yang dibentuk tahun 2008 dan dikukuhkan kembali
tanggal 9 Oktober 2013. Forum ini mendedikasikan perhatiannya pada upaya
memfasilitasi dan mengordinasikan Jurusan KPI se-Indonesia dalam pengembangan
keilmuan dan profesi. Hal ini juga merupakan daya dukung terhadap eksistensi
KPI.
Satu hal lagi, adalah dorongan adanya jurnal jurusan KPI
terakreditasi. Jurnal Komunkasi Islam milik KPI IAIN Sunan Ampel Surabaya,
disebut sebut sebagai jurnal yang dapat menuju kesana, karena tidak banyak
jurusan KPI yang mempunyai jurnal ilmiah. Oleh karena itu salah satu penyunting
ahli menginginkan agar Jurnal Komunikasi Islam bekerjasama dengan FORKOPIS
dapat dilakukan sehingga mempunyai nilai lebih sekaligus menjadi tren pilihan
penulis-penulis dakwah KPI menuangkan karyanya.
Untuk merealisasikan itu, tentu butuh dukungan dari
pengelola dan pimpinan. Seminar tersebut cukup memberikan inspirasi bagi
pengelola institusi terkait serta menjadi pencerahan bagi pemerhati dakwah.
Semoga ke depan KPI lebih eksis dalam mengawal keilmuan dakwah serta
menghasilkan outcomes yang berkualitas. Amin.
gis antropologis sangat penting untuk mengeksplore realitas
Islam dan lebih memungkinkan kita untuk mendapatkan data secara holistik dan
alamiah.
*Dosen
Fakultas Dakwah IAINSA

Komentar
Posting Komentar