KABAR DUKA, KEMBALINYA DUA PANGERAN DURRIYAH GURU TERCINTA
Kali ini kabar duka.
Skenario-Nya memang tidak ada yang bisa menduga.
Dalam sehari Ia ambil dua pangeran durriyah daripada Guru tercinta.
Allahu
Rabbi… Kali ini Engkau ingatkan kami akan usia yang tidak bisa diduga siapa saja.
Sekitar pukul 11.00 WIB dikabarkan bahwa telah berpulang
keharibaan-Nya Gus Fadhol Al-Ishaqi cucu dari Ibu Nyai Afifah Al-Ishaqi pada
tanggal 28 Oktober 2017M/08 Shafar 1439H. Selang beberapa jam kemudian sekitar pukul
21.00 WIB, Gus Nashar Al-Ishaqi adik kandung dari Gus Fadhol (alm) putra dari
Nyai Titik Al-Ishaqi turut menyusul sang kakak menuju keharibaan Allah SWT.
28 Oktober, dimana pada tanggal itu ditetapkan sebagai Hari Sumpah
Pemuda. Dua pemuda mulia telah pulang. Sang kakak diduga meninggal lantaran
sakit asam lambung yang dideritanya. Sedang sang adik, dikabarkan meninggal karena
kaget atas kepergian sang kakak. Banyak dari para pecintanya berduka atas
kepergian beliau-beliau sang pembimbing, perangkul dan penuntun mereka. Yah. Tepat
satu minggu setelah digelarnya HUT Copler Community di Pondok Pesantren
Al-Fithrah Gresik kakak beradik ini di jemput oleh Tuhan Alam Semesta.
Terlepas daripada itu, Allahu Rabbi telah memperingatkan
kepada kita melalui kasih sayang-Nya pada kedua durriyah KH. Ustman
Al-Ishaqi RA dan KH Achmad Asrori Al-Ishaqi RA, bahwa sewaktu-waktu Ia bisa
mengambil umur kita tanpa pernah kita duga. Beliau, kedua pangeran-Nya kembali
saat usia yang masih terbilang muda. Dan itu jelas tidak menutup kemungkinan
esok kitalah yang akan mengalami hal yang sama.
Sudah sejauh mana kita mendekatkan diri pada-Nya? Sudah secinta
mana kita pada-Nya? Bagaimana jika sewaktu-waktu Ia utus malaikat maut untuk
menjemput kita? Amalan apa yang sudah kita persiapkan selama ini? Bukankah yang
paling dekat dengan kita adalah kematian?
Termaktub dalam Al-Qur’an, bahwa “Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati,” QS. Ali Imran:185. Juga, dari Abu Hurairah RA, beliau
berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus
segala kelezatan, yaitu kematian,” (HR. At-Tirmidzi, Syaikh Al-Albaniy
dalam Shahih An –Nasa’iy 2/393, Hadits Hasan Shahih). Hal ini menegaskan, bahwa
kita semua jelas akan kembali pada-Nya.
Lantas tanyakan pada diri kita. Berbekal apa kita bertemu dengan-Nya?
Bagaimana dengan nikmat yang sudah diberikan-Nya? Mulai dari waktu yang telah kita
pergunakan untuk apa? Kita manfaatkan untuk apa umur yang diberikan? Semua… Semua
yang telah diberikan-Nya jelas akan kita pertanggung jawabkan nantinya.
Teringat enam pesan Imam Al-Ghazali :
1.
Yang
paling dekat adalah kematian.
2.
Yang
paling jauh adalah masa lalu.
3.
Yang
paling besar adalah hawa nafsu.
4.
Yang
paling berat adalah memegang amanah.
5.
Yang
paling ringan adalah meninggalkan sholat.
6.
Dan yang
paling tajam adalah lisan manusia.
Semoga… Semoga kita bisa memanfaatkan segala nikmat yang telah
diberikan-Nya. Tanpa pernah melalaikan perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya
dan dapat menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. #amiin
Nikmat Tuhan mana yang masih kau dustakan? Jika ada peringatan
Tuhan yang datang saat kita masih diberi kelonggaran waktu untuk terus berusaha
dekat dan mencintai-Nya.
Untuk beliau yang mulia, #GusFadhol dan #GusNashar ‘ala
hadihinniyah wa’ala niyatin sholihah… #alfathihah.
Surabaya,
29 Oktober 2017
03.46
WIB


Komentar
Posting Komentar