BERCERITA BISA MELALUI TULISAN KAWAN


BERCERITA BISA MELALUI TULISAN KAWAN





            Pada mulanya saya kurang suka yang namanya bercerita, ntah itu mengisahkan diri saya, keluarga, orang tua apalagi orang lain. Semua itu berawal dari alasan, karena tidak ada manfaatnya bercerita ini itu atau apalah namanya kepada orang lain, toh belum tentu juga orang yang kita ajak bercerita merasa senang atas cerita yang kita paparkan. Terlebih apabila cerita kita memunculkan anggapan dan sikap yang kurang enak dari lawan bicara kita, karena penyampaian kita yang tidak mengasikkan atau terkesan membosankan mungkin.
            Perlu diketahui, kurang suka dalam bercerita bukan berarti saya enggan berbagi pengalaman yang ada. Maksudnya disini saya tipikal orang yang malas berdongeng jika tidak ada artinya, namun jika disuruh berkisah tentang kehidupan saya yang dirasa bermanfaat adanya, 1x24 jam pun saya siap. hehehe J
Merasa kurang bisa dalam bercerita maka dari itu saya kurang suka bercerita :D
            Itu sebenarnya alasan yang mendasari saya kurang suka bercerita pada sesosok manusia. Saya tidak mampu berdongeng atau berbagi kisah dengan pembawaan seni berbicara yang mampu membangun simpati atau bahkan empati orang lain. Terlepas semua itu merupakan kelebihan atau kekurangan, yang saya tahu karena sikap saya itu banyak komentar muncul dari teman-teman, seperti kisah saya semasa Sekolah Menengah Awal (SMA) dulu, sebenarnya Madrasah Aliyah (MA) yang saya maksud, berhubung takut kalian yang baca kurang paham dan tidak mengerti maka saya istilahkan SMA saya yah...
            Kala itu saya sedang berada dalam kelas, teman-teman sana sini sudah saling berhadapan satu sama lain memperbincangkan sesuatu yang menurut mereka penting atau hanya sekedar menarik. Mulai dari bercerita tentang Si A, atau tentang keadaan masing diantaranya, bisa sampai tentang guru yang akan mengajar kami hari itu. Dengan keadaan kelas yang seperti itu saya banyak memilih diam dan duduk manis sambil mencari kesibukan sendiri, bahkan kadang bisa tertawa sendiri melihat ulah teman-teman saya.
            Peristiwa semacam itu terjadi hampir setiap hari, walau terkadang, saya ikut nimbrung bersama teman jika ada suatu pembahasan yang menurut saya penting untuk didiskusikan. Karena saya tidak mengingkari, perbincangan semacam itu sebenarnya asyik juga, karena dengan seperti itu bisa dikatakan kita sedang berbagi pengalaman, mencoba mengolah kata dalam berbicara, juga membiasakan diri berani menyampaikan pendapat dan persepsi kita, jika menjurus ke pembahasan yang harus dinilai secara personal.
            Saking seringnya saya memilih diam, membawa kebiasaan buruk bagi saya. Dalam diam saya malah kebawa mimpi, alias malah tidur J. Pernah suatu kali, kebiasaan itu disadari oleh teman saya, kalau ga diam, ikut nimbrung, yah tidur, itu kelakuan saya ujar salah satu diantaranya. *tertawa saya mengenangnya, hahaha.
            “Lihat kawan! Ratu cuek sedang diam, padahal sekelilingnya sedang bercerita dan bercanda, ini malah asyik sendiri. Jangan terlewatkan... Mari kita perhatikan,” itu salah satu olokan yang sering dilontarkan teman-teman padaku. Yang saya balas dengan senyum lalu disambut gelak tawa oleh mereka semua. *Indah juga jika dikenang...
            Tak pernah tersadar awalnya, ternyata kurang suka bercerita bukan berarti mengakhiri cerita. Tanpa saya tahu, goresan tinta dalam buku diary sebenarnya mewakili kesan dan pesan yang selama ini ingin dibagi. Buku diary menjadi perwakilan teman untuk mengetahui keluh kesah yang ada. Sedari kecil, kala saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kebiasaan menulis dalam catatan harian kerap saya lakukan, semua itu terus berlanjut hingga sekarang ini. hahaha J ...
            Kebiasaan saya ini tidak saya ketahui, bahwa semua itu mencerminkan saya juga suka dan senang berbagi cerita, mengisahkan ini dan itu, mencelotehkan hal yang menarik, meski lawan cerita saya tidak akan pernah bisa menanggapi setiap gambaran peristiwa yang sedang terjadi (kan ceritanya dalam buku diary, hahaha...).
            Bahkan suatu kali pernah buku diary saya dibaca tuntas oleh kakak kandung saya, lalu dikomentari setiap inci dari tulisan yang ada di dalamnya. Marah, malu, bahagia, sedih, melihat bocornya cerita saya itu. Kejadian itu berlangsung saat saya menduduki kelas 6 SD, dimana pada awal kelas 6 tersebut musibah yang sangat luar biasa tengah menimpa keluarga saya. Ibunda tercinta dipanggil oleh sang Maha Pencipta, dan didudukkan manis di singgahsana-Nya bersama para kekasih-Nya... #Amiiin Setelah kejadiaan itu, saya banyak menjadi pendiam, saya tidak menyadari bahwa saya tidak akan bisa bertemu dengan Ibunda lagi, ntah rasa kehilangan itu tiba-tiba saja muncul. Kala itu perasaan yang ada, saya bagi, saya tuangkan, saya kisahkan, pada catatan harian saya.
            Siang itu, setelah lewat masa 7 hari Ibunda meninggal, saya baru tersadar, buku harianku menghilang. Ntah kapan hilangnya saya juga tidak menyadari. Pontang panting kekiri kekanan mencarinya buku tersebut tidak ditemukan hingga masa sekolah di bangku SD pun berakhir.
            Buku itu, catatan harian saya semasa SD, saya temukan ketika pulangan pondok tengah berlangsung. Yah, selepas SD, saya melanjutkan studi di pondok pesantren yang jaraknya tidak jauh dari rumah saya, letaknya di Kota Surabaya juga, mungkin sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai di tempat tersebut. Kala itu liburan semester sedang berlangsung, seperti biasa saya membereskan beberapa barang-barang yang tidak saya perlukan semasa di pondok pesantrean nanti, ketika merapikan lemari buku saya, sambil menata dan melihat-lihat buku yang ada, saya tertegun melihat buku yang sedari dulu saya cari ternyata ada diantara buku yang berjejeran di lemari itu. Dengan sigap dan cepat membereskan lemari buku akhirnya selesai juga, tentu dengan memisahkan beberapa buku yang ingin kembali saya baca isinya, tidak terkecuali buku diary itu.
            Setelah menyelesaikan semuanya, saya duduk sambil membaca isi dari tulisan yang dulu menjadi catatan sehari-hari. Senyum sendiri mengingat dan mengenang setiap kejadian yang tergambarkan, hingga kecengangan menyelimuti, melihat ada beberapa lembar berisi tulisan tak tahu milik siapa? Terdiam dalam lamanya sembari menduga, apa si empunya tulisan sengaja menuliskannya dalam buku diary saya? Atau dia salah buku kala menggores pena?
            Dirundung penasaran, mulailah saya membaca goresan pena yang tak tahu milik siapa itu. Sambil membaca, akhirnya saya ketahui bahwa tulisan itu benar ditujukan kepada diri ini, berarti dengan sengaja si pemilik tulisan menggores penanya dalam buku diary saya. Sambil lalu membaca maka kebenaran lain mulai saya temukan lagi, tulisan itu milik kakak saya, setiap isi tulisan itu mencerminkan pesan dan kesan untuk saya, yang hingga sampai saat ini terus saya baca sebagai pengingat tujuan hidup ini. Yah... Itu bentuk komunikasi non verbal yang tidak saya sadari, dan baru saya pahami baru-baru ini.
            Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini bukan tentang curhatan saya, buku diary yang sempat hilang, atau kurang pandai dalam bercerita bahkan malah enggan berbagi, namun pesan dalam tulisan ini terletak pada ungkapan terakhir sebelum paragraf ini saya tulis. Bahwa berbagi informasi atau kesan pesan lewat tulisan juga merupakan komunikasi kawan, dengan menulis kita bisa berbagi cerita juga.
            Jika kau sama denganku, kurang bisa berkata-kata, kurang bisa membius orang hanya dengan berbicara, maka menulislah, dengan menulis pesan yang ingin kau sampaikan juga dapat tersalurkan. Terbukti dengan goresan pena kakak saya, yang setiap makna dalam tulisannya sarat mengingatkan tujuan hidup dan kecintaannya pada keluarga. hmmmm....
Sukses selalu kawan! Ayo lakukan sesuatu sesuai kemampuan kita...
Semoga bermanfaat adanya J
Surabaya, 05 Agustus 2016
20:20 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini