PANDANGAN PERTAMA ZALAIVA
PANDANGAN PERTAMA ZALAIVA
Zalaiva dengan
pakaian kanak-kanaknya berjinjit pelan membawa dua butir telur ayam di
genggaman tangan kanannya. Tangan kirinya meraba-raba selusur papan kandang.
Rok bersulam kupu-kupunya terkena bercak lumpur dimana-mana. Sementara, pipi
montok menggemaskan itu sekarang seperti muka prajurit Indian, tercoreng dua
saput kotoran. Entah oleh apa, bisa jadi oleh tahi ayam. Tampangnya serius
sekali membawa telur-telur itu. Kakeknya berdiri mengamati, tersenyum sambil
memungut telur di rak yang lebih tinggi.
Sayang sekali
sebelum ia tiba di ember besar yang diletakkan di sebelah kaki kakeknya, seekor
ayam jantan entah dari mana asalnya, terbang masuk kandang. Berkotet menyergap
tubuh mungil Zalaiva. Gadis kecil itu berseru kaget. Telur-telur di genggam di
tangannya terlepas, terlontar entah ke mana. Zalaiva untuk sepersekian detik
bisa mendengar telur itu satu per satu jatuh menghantam lantai semen, seperti
kalian bisa melihat tetesan air jatuh dari langit secara patah-patah. Dan telur-telur
ringkih itu pecah tak keruan. Sambil menahan sakit di lututnya gadis kecil itu
mencoba berdiri. Matanya berkaca-kaca. Ia meraba-raba, tertatih melangkah,
mendekato kaki kakeknya takut-takut. Sebentar lagi gadis itu pasti menangis.
Tetapi kakeknya tidak
marah. Justru duduk jongkok menyambut tubuh mungil itu. Tersenyum, menghapus
butiran air mata di pipi Zalaiva. Menatapnya amat bijak, kemudian memegang
bahunya dengan lembut.
“Jangan
dipikirkan. Hanya telur, Sayang!”
Tetapi Zalaiva
tetap terisak. Kakeknya sambil menghela napas dalam-dalam, perlahan duduk
selonjor di lantai lorong kandang ayam. Ia menepuk-nepuk bulu ayam di pakaian
bidadari kecilnya. Lantas mendudukkan Zalaiva di pangkuannya. Topi jerami ia
sangkutkan di sembarang tempat.
Di peternakan,
ini, Zalavia hanya tinggal dengan kakeknya seorang. Tidak ada siapa-siapa lagi.
Dulu pernah ramai sekali. Tetapi satu persatu penghuninya pergi dengan kenangan
gentir dan tak pantas diingat lagi.
Apalagi oleh Zalavia yang sedang tumbuh dengan kepolosan hidup. Rumah besar itu
sekarang berdiri suram seolah-olah penuh kutukan. Tetapi Zalaiva tidak tahu dan
tidak peduli. Ia punya kakek yang selalu pandai bercerita.
“Tahukah, Sayang.
Jika kau melemparkan butiran telur dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah,
sedikit pun telur itu tak akan retak sepanjang kau punya sesuatu!” Kakeknya
berbisik di telinga Zalaiva. Beginilah yang selalu ia lakukan jika Zalaiva
tiba-tiba menangis sedih. Ia selalu membisikkan kisah-kisah indah karena suatu
saat ia yakin Zalaiva berhak atas manisnya kehidupan ini. Dan gadis mungil itu
seperti biasa, mendongakkan kepalanya penuh rasa ingin tahu,
mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya, lantas menggeleng. Saat-saat seperti ini
selalu menyenangkan baginya.
“Dan tahukah kau
apakah sesuatu itu?”
Zalaiva menggeleng
lagi.
“Sesuatu itu
adalah cinta!”
Kakeh menyebut
perlahan dan penuh perasaan kata itu. Seperti menggantungkannya menjadi bintang
di langit-langit kandang. Zalaiva justru berpikir tentang hal lain.
“Kalau begitu
cinta itu seperti kasur, ya, Kek? Yang saat Zalaiva loncat-loncat di atasnya
tidak terasa sakit?”
“Bukan. Cinta itu
tidak seperti kasur, Sayang”
“Jadi bagaimana ia
membuat telur itu tidak pecah?”
“Karena cinta itu
akan memberikan sepasang sayap yang indah kepada telur itu, Sayang” Kakeknya
tersenyum sambil mencium ubun-ubun gadis mungil itu.
“Jadi cinta itu
seperti burung!”
“Ya. Seperti
burung, ia akan membawamu terbang kemana saja. Membuatmu bisa memandang seluruh
isi dunia dengan suka cita. Bahkan, terkadang kau merasa seluruh dunia ini
hanya milikmu seorang”
Gadis mungil itu
ikut-ikutan mendongakkan kepala menatap kosong langit-langit kandang.
Membayangkan mendengar kepak-kepak sayap burung yang sama sekali belum pernah
dilihatnya. Sepertinya itu amat menyenangkan.
“Kakek Zalaiva
ingin cinta!”
***
Kemudian,
hari-hari berikutnya Zalaiva jadi sering sekali bertanya tentang cinta. Suatu
pagi, ia berlatih bernyanyi do-re-mi sambil belajar berdansa, patah-patah
memegang tangan rentan kakeknya, Zalaiva menyela, “Kakek, apakah cinta itu
menyenangkan seperti music?”
“Ya. Ia seperti
musik, tetapi cinta sejati akan membuatmu selalu tetap menari meskipun musicnya
telah lama berhenti”
“Kalau begitu,
Zalaiva ingin cinta!”
Kakeknya tersenyum
meringis sambil memijat-mijat pinggangnya. Gadis mungilnya tidak tahu,
berputar-putar menari seperti ini membuat encoknya kumat lagi.
Suatu ketika,
Zalaiva duduk menggigil malam-malam ketakutan, badai mengamuk di luar sana.
Angin menderak-derakkan jendela. Kilat dan Guntur susul-menyusul memekakkan.
Zalaiva yang baru terbangun dari mimpi buruk hantu-hantu, mendongak kea rah
kakek yang sedang memeluknya. “Kakek, apakah cinta itu melakukan seperti
hantu?”
“Ya, cinta sejati
seperti hantu. Semua orang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang
benar-benar pernah melihatnya”
Zalaiva
mengernyitkan dahinya. Mengkerut takut dalam pelukan kakeknya. “Kalau begitu,
Zalaiva tidak ingin cinta lagi!”
Kakeknya tersenyum
merasa bersalah. Mala mini ia terlalu lelah. Dari tadi ingin rasanya segera
tidur. tetapi gadis kecilnya yang sedang ketakutan sepertinya tak akan beranjak
menutup matanya. Mungkin dengan begini gadis kecilnya bisa segera terlelap.
Ketika paginya
mereka berdua berendam dalam sejuknya air sungai di belakang peternakan.
Zalaiva yang senang sekali memukul-mukul air kea rah kakeknya. Di antara
percikan air yang bening, tiba-tiba menyela, “Kakek apakah cinta sesejuk air
sungai ini?”
“Ya. Cinta sejati
memang seperti air sungai, sejuk menyenangkan, dan terus mengalir. Mengalir
terus ke hilir tidak pernah berhenti. Semakin lama semakin besar karena semakin
lama semakin banyak anak sungai yang bertemu. Begitu juga cinta, semakin lama
mengalir semakin besar batang perasaannya”
“Kalau begitu ujung
sungai ini pasti ujung cinta itu?”
“Cinta sejati
adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tak pernah memiliki tujuan”
“Kakek, apakah
cinta itu member, seperti yang selalu kakek lakukan saat member makan
ayam-ayam?”
“Tidak. Karena kau
selalu bisa member tanpa sedikitpun memiliki perasaan cinta, tetapi kau takkan
pernah bisa mencintai tanpa selalu member”
“Kakek, dari kota
manakah cinta datang?”
“Tidak ada yang
tahu, Sayang. Cinta sejati datang begitu saja, tanpa satu alasan pun yang
jelas!”
“Kalau begitu
bagaimana Zalaiva tahu itu cinta?”
“Kau akan tahu
ketika ia datang. Tahu begitu saja. Dulu orang-orang menyebut cinta
pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu
yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat. Cinta sejati
selalu datang pada orang-orang yang berharap berjumpa padanya dan tak pernah
berputus asa.
“Kelak saat kau
dewasa, kau akan melihat banyak sekali orang-orang yang begitu saja jatuh
cinta. Bagi mereka, cinta seperti memungut bebatuan di pinggir sungai. Banyak
bertebaran. Bosan bisa dilemparkan jauh-jauh. Kurang, tinggal masukkan batu
yang lain ke dalam kantong lainnya. Apakah perangai seperti itu disebut cinta?
Tentu saja bagi mereka juga cinta. tetapi ingatlah selalu Zalaiva-ku, cinta sejati
tak sesederhana bebatuan”
“Suatu saat jika
kau beruntung menemukan cinta sejatimu. Ketika kalian saling bertatap untuk
pertama kalinya, waktu akan berhenti. Seluruh semesta alam takzim menyampaikan
salam. Ada cahaya keindahan orang-orang beruntung yang bisa melihat cahaya itu,
apalagi kesempatan bisa merasakannya”
“Apakah kakek
pernah bertemu dengan cinta?”
Kakeknya tertawa
pelan sambil mengelus rambut panjang hitam legam gadis kecilnya. Zalaiva
tersenyum, ia sudah terbiasa dengan jawaban tawa pelan seperti itu.
“Apakah cinta
memerlukan mata untuk memandang?”
“Tentu tidak,
Sayang”
Kakek itu mencium
khidmat ujung-ujung jari mungil Zalaiva. Zalaiva tersenyum, ia juga sudah
terbiasa dengan jawaban cium ujung-ujung jari seperti itu.
***
Gadis
berambut panjang hitam legam itu berdansa anggun sekali di tengah-tengah aula.
Gaun merah yang membungkus ketat tubuh indahnya membuat ia terlihat mencolok di
antara puluhan pasangan lainnya. Kaki-kakinya bergerak dengan irama teratur.
Posisi badannya sempurna sudah. Dan ketika music terhenti, para hadirin
beramai-ramai tak kuasa menahan diri untuk tidak bertepuk tangan.
Dengan
anggun gadis itu membungkuk membalas. Lantas dibimbing perlahan oleh sang tuan
rumah menuju kursi di sudut ruangan. Pesta akan dipotong sebentar dengan
sambutan dan jamuan. Tidak. Tidak ada bercak lumpur di baguab bawah gaun
pestanya, apalagi dua carik coreng tahi ayam di pipi montoknya. Zalaiva sungguh
sudah berubah, memesona. Gadis itu sudah berbilang 20 tahun. Matang dan dewasa.
Ia
tumbuh menjadi pedansa terkenal. Dari satu kastil ke kastil lain. Dari satu
pesta ke pesta lain. Berpendidikan dan terhormat berkat bimbingan kakeknya.
Pengharapan kakeknya sejauh ini sudah terwujud. Zalaiva mengecap manisnya hidup
yang tak pernah dikecap oleh kedua orang tuanya. Tak pernah dikecap oleh
anggota keluarga lainnnya. Dan juga oleh kakeknya sendiri.
Seorang
pelayan berseragam dating mendekati Zalaiva, membungkuk menawarkan segelas
anggur. Zalaiva tersenyum mengulurkan tangan menerimanya dengan sopan. Tetapi
sayang sekali, belum sampai bibirnya menyentuh gelas Kristal itu, seorang
pemuda yang entah datangnya dari mana, terburu-buru lewat dihadapannya,
menyenggol tidak sengaja tangan mungil Zalaiva. Gadis ituberseru kaget. Pecah
berantakan membasahi karpet, juga gaun merahnya.
Pemuda
terburu-buru itu jangankan meminta maaf, malah buru-buru pergi menghindar dari
tatapan ingin tahu banyak orang. Tinggallah Zalaiva tertegun. Memerah mukanya
tak tahu berbuat apa. Tangannya menjulur ke bawah hendak meraba-raba memungut
beling gelas. Tiba-tiba tangan seorang pemuda lain dahulu menyentuh ujung
jarinya dengan lembut.
“Jangan
dipikirkan, hanya sebuah gelas!”
Suara
itu datang bagai angin surga. Menyerap rasa malu dan cemas Zalaiva, lantas
melemparkannya jauh-jauh ke masa-masa menyenangkan dulu. Zalaiva mendongak
mencari tahu muasal suara.
“Tahukah
kau, jika kau melempar sebuah gelas dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah
sedikit pun gelas itu takkan retak sepanjang kau punya sesuatu!”
Zalaiva
di tengah keterpanaannya mengangguk begitu lemah. Ia bisa merasakan hembusan
napas pemuda itu di wajahnya yang semakin merah.
“Tahukah kau apakah sesuatu itu?”
Zalaiva
tidak tahu apakah ia mengangguk atau tidak saat itu. Yang ia tahu secara pasti
tiba-tiba jantungnya seperti terseret ke dalam putaran perasaan yang sungguh
tidak ia mengerti. Ketika pemuda itu dengan khidmat mencium ujung-ujung
jarinya. Ia merasa seluruh semesta berhenti. Semburat cahaya yang menggetarkan
muncul menyeruak dari tubuhnya.
Zalaiva
tiba-tiba merasa berdiri di atas padang rumput maha luas. Semua orang tersaput
hilang. Semua benda tersungkir jauh-jauh, kecuali sebatang pohon mahoni dengan
kicau burung-burung dan sebuah rumah mungil beratap rumbia berdinding papan
berwarna putih. Ia dan pemuda itu berdiri saling menatap dan saling berpegangan
tangan. Dari jauh terdengar suara gemericik air sungai.
Lama
sekali Zalaiva mempercayai kata-kata kekenya dulu. Setiap pagi, saat ia
menyiram kembang setaman di bawah jemdela kamarnya, Zalaiva mendongak ke langit
biru dan berbisik pelan pada semilir angin, ia
rindu berjumpa cinta sejatinya dan akan pernah putus asa. Dan hari ini,
setelah sekian lama, kesabaran itu akhirnya berbuah. Tuhan mengirimkannya. Ia
dating begitu saja, tanpa satu alasan pun yang jelas.
“Apakah
kau sakit? Mukamu pucat sekali?”
Pemuda
itu membantu Zalaiva duduk kembali di atas sofa. Melambaikan tangan memanggil
pelayan agar membersihkan beling tajam di atas karpet. Menarik sapu tangan
putih dari lipatan jasnya. Berusaha membantu membersihkan gaun merah Zalaiva.
“Ah,
biar. Biar kubersihkan sendiri.”
“Tidak,
Nona. Biarkan aku menghinakan diri dengan membersihkan gaun indahmu,”
Zalaiva
terkesima lagi. Jantungnya berdetak tak karuan saat merasa tangan pemuda itu
menyentuh gaun pestanya. Tubuhnya gemetar. “Aku akan memulai perjalanan panjang
itu,” desah Zalaiva dalam diam.
***
Nasib!
Aku
harus menyalahkan siapa, jika perjalanan mendebarkan itu tidak terlalu panjang.
Panjang aliran sungai itu ternyata hanya sepelemparan batu. Kemudian kandas
dihadang dam raksasa. Benar-benar sepelemparan batu, karena malam itu juga
semuanya berakhir.
Malam
itu, setelah keributan kecil itu berhasil di selesaikan dengan baik. Pemuda itu
menawarkan diri menemani Zalaiva berdansa bersama untuk putaran kedua.
Andaikata bisa kulukiskan dansa mereka berdua, maka lukisan itu cukup untuk
membantumu tenggelam dalam keagungan perasaan cinta hanya dengan menatap cahaya
muka Zalaiva.
Saat
Zalaiva malu-malu berpamitan pulang, pemuda itu membantunya menaiki kerata
kuda. Saat kereta kuda itu membelah dindingnya malam musim salju, sais kereta,
satu-satunya bekas pembantu kakeknya yang masih tersisa menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang pemuda itu. Jawaban dengan suara tertahan,
layaknya seorang yang sedang kedinginan mengendalikan laju kereta.
Tetapi
bagi Zalaiva, suara tertahan itu seperti berubah menjadi sembilu yang tanpa
ampun mengiris-iris jantungnya. Ia tidak peduli dengan seberapa tampan dan
seberapa kuasanya pemuda itu, fakta singkat yang tiba-tiba membuatnya menggigil
adalah saat sais kereta mengatakan bahwa pemuda
itu minggu depan akan menikah.
Tak
penting dengan siapa. Tak penting siapa wanita itu. Zalaiva merasa amat merana.
Bohong. Kakeknya berbohong. Cinta tidak seperti aor sungai, sejuk dan menyenangkan.
Baginya, sekarang cinta lebih seperti moncong meriam. Sesaat lalu
melontarkannya tinggi sekali hingga ke atas awan, tetapi sekejap kemudian
menghujamkannya dalam-dalam ke perut bumi.
Terhempaskan.
Tidak.
Cinta tidak memberikan sepasang sayap indah. Ia bukan hanya tidak bisa terbang
sekarang, untuk bergerak sedikit pun terasa menyakitkan sekali.
Zalaiva
menangis dalam diam.
Cinta tidak membuat ia merasa memiliki
dunia ini, ia justru merasa kehadirannya di dunia sia-sia belaka. Cinta memang
lebih mirip hantu, semua orang membicarakannya, tetapi sedikit yang benar-benar
pernah melihatnya. Dan ketika kau berhasil melihatnya kau lari sungguh
ketakutan.
Kakeknya jelas lupa mengajarkan soal
akhir sebuah percintaan. Cinta sejati tidak selalu seperti music yang membuatmu
tetap menari meskipun sudah lama berhenti. Ia sekarang justru mengharapkan
music itu tidak sedikit pun pernah dimainkan.
Zalaiva merintih dalam sunyi.
Kakeknya hanya benar satu hal. Hanya
satu hal. Kalian sama sekali tidak memerlukan mata untuk memandang cinta
sejatimu. Tidak memerlukan kelopak mata untuk mengenalinya. Ia selalu dating,
tak pernah tersesat.
Zalaiva sekali lagi dalam diam menyeka
kedua matanya. Mata yang sama sekali tak terdapat bintik hitam di bolanya.
Zalaiva buta.
***
Tulisan ini di ambil
dari Buku ‘Berjuta Rasanya’ Karya ‘Tere Liye’
Kunjungi
tulisan lainnya : http://fadilasn.co.id
Komentar
Posting Komentar