OPTIMALISASI SARANA DAKWAH DENGAN TEORI GENERASI
OPTIMALISASI
SARANA DAKWAH DENGAN TEORI GENERASI
A.
DAKWAH
Makna dakwah secara epistimologi
–versi Wikipedia– adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil
orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai aqidah, syari’at dan
akhlak Islam.[1] Sedangkan secara terminologi –
menurut M. Abu al Fath al Bayanuni – adalah menyampaikan dan mengajarkan Islam
kepada manusia serta menerapkannya dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu,
tidak heran jika umat Islam melakukan pelbagai macam aktivitas dakwah dalam
kehidupan sehari-harinya.
Berdakwah merupakan suatu keharusan
bagi setiap umat Islam. Guna menuai hasil yang efektif maka dakwah perlu
didesain dengan adanya sarana dakwah, seperti yang pernah dicontohkan oleh Nabi
SAW, beliau pernah melakukan dakwah dengan metode berceramah, konseling,
diskusi, berkirim surat kepada para pemimpin – pemimpin umat, dan semacamnya.
Semua dakwahnya itu berisikan tentang ajaran Islam, yang bersumber dari Al –
Qur’an dan As – Sunnah.
Selain itu, cara/metode dalam
berdakwah juga diulas dalam kitab suci umat Islam, dalam Al – Qur’an – pedoman
umat Islam – pada Surat An - Nahl : 104, berbunyi :
.... اُدْعُ اِلٰـى سَبِيْـــلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَـــةِ الْحَسَنَـةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَـنُ قلى
اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْـــلِه وَهُوَ اَعْلَمُ
بِالْمُهْتَـــــدِيْنَ
”Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah (berdialog-lah) mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ”.QS. An-Nahl:125
Bahkan Wali Songo – para tokoh penyebar ajaran Islam di Tanah Jawa – juga
mengajarkan metode berdakwah yang berbeda, dengan menggunakan pendekatan,
strategi dan metode yang tidak biasa. Sebab kepiawaan beliau – Wali Songo –
dalam membaca situasi dan kondisi, maka ajaran yang dibawanya begitu mudah
diterima oleh Masyarakat Jawa. Padahal, sederhananya sarana yang digunakan Wali
Songo dalam berdakwah ialah dengan memanfaatkan budaya yang berusaha
diakulturasikan dengan nilai keislaman –budaya yang diislamkan –. Serta selama
perjuangannya menyebarkan ajaran Islam, Wali Songo, terutama Sunan Bonang,
selalu memasukkan unsur permainan dan kesenian yang tidak membuat masyarakat
jenuh.
Dari ulasan beberapa metode dan sarana yang telah dicontohkan diatas, maka
jelas bahwa penggambaran efektivitas dakwah selain bergantung pada si pendakwah
juga amat bergantung pada sarana yang digunakan. Selain itu, point yang juga
harus dipertimbangkan ialah tentang kebutuhan dan keadaan mad’u (sasaran
dakwah). Karena sehebat apapun da’I dan sebaik apapun sarana dakwahnya, jika
tidak sesuai dengan kebutuhan mad’u maka semuanya akan percuma.
B.
TEORI GENERASI
Setiap generasi pada zamannya mempunyai ciri dan karakteristik
masing-masing. Beragam kesamaan atau pun perbedaan di dalamnya layaknya dapat
dijadikan sebagai gambaran umum atas bagaimana mereka berperilaku. Sejak munculnya Teori Generasi
(Generation Theory), istilah generasi X, Y, dan Z mulai dikenal.
Segala sesuatu terutama yang berhubungan dengan pekerjaan sering dikaitkan
dengan ciri-ciri dari generasi-generasi tersebut. Hal itu diungkapkan tiada
lain untuk mencari jalan tengah agar antar generasi tersebut dapat saling
memahami dan mengerti.
1. Generasi X à Generasi Baby
Boomers. Beberapa pendapat umum menyebutkan bahwa lingkup dari generasi X adalah
mereka yang lahir dari tahun 1960 sampai 1980.
2. Generasi Y à Generasi yang
disebut dengan generasi Y atau Millennial adalah mereka yang lahir dari tahun
1980 sampai dengan tahun 1995.
3. Generasi Z à Generasi Z
adalah mereka yang lahir diatas tahun 1995.
Pendapat lain muncul dari Akhmad
Sudrajat (2012) yang menjelaskan bahwa dalam teori generasi (Generation Theory)
hingga saat ini dikenal ada 5 generasi – Pasca Perang Dunia Kedua – yaitu :
1. Generasi
Baby Boomer, lahir 1946-1964.
:
Generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak saudara, akibat
dari banyaknya pasangan yang berani untuk mempunyai banyak keturunan. Generasi
yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Dianggap sebagai orang lama
yang mempunyai pengalaman hidup.
2. Generasi
X, lahir 1965-1980.
:
Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan personal
computer (PC), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan data-nya pun
menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa
ini. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jane Deverson, sebagian dari
generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua,
mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja.
3. Generasi
Y, lahir 1981-1994.
:
Dikenal dengan sebutan generasi Millenial atau Milenium. Ungkapan
generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada
Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan
seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan
twitter. Mereka juga suka main game online. Menurut teori William Strauss dan
Neil Howe, generasi Y adalah mereka yang lahir pada tahun 1982 hingga tahun
2000.
4. Generasi
Z, lahir 1995-2010.
:
Generasi Z (disebut juga iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet)
terlahir dari generasi X dan Generasi Y. Mereka memiliki kesamaan dengan
generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu
seperti nge-tweet menggunakan phone seluler (Ponsel), browsing dengan personal
computer (PC) dan mendengarkan musik menggunakan headset.
Apapun
yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka
sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak
langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.
5. Generasi
Alpha, lahir 2011-2025.
Generasi
yang lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y. Generasi yang
sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar, rata-rata
mereka memiliki orang tua yang kaya.
1. Generasi
X
· Mampu
beradaptasi.
· Mampu
menerima perubahan dengan baik dan disebut sebagai generasi yang tangguh.
· Memiliki
karakter mandiri dan loyal (setia).
· Sangat
mengutamakan citra, ketenaran, dan uang.
· Tipe
pekerja keras.
· Kekurangannya
selalu menghitung kontribusi yang telah diberikan perusahaan terhadap hasil
kerjanya.
2. Generasi
Y
· Karakteristik
masing-masing individu berbeda, tergantung dimana ia dibesarkan, strata
ekonomi, dan sosial keluarganya.
· Pola
komunikasinya sangat terbuka dibanding generasi-generasi sebelumnya.
· Pemakai
media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan
perkembangan teknologi.
· Lebih
terbuka dengan pandangan politik dan ekonomi, sehingga mereka terlihat sangat
reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.
· Memiliki
perhatian yang lebih terhadap wealth atau kekayaan.
Pada setiap tahap kehidupannya akan
berbeda. Pada saat muda akan tergantung pada kerja sama kelompok. Pada saat dewasa
akan berubah menjadi orang-orang yang akan lebih bersemangat ketika bekerja
secara berkelompok, terutama di saat-saat kritis. Pada saat paruh baya mereka
akan sangat berenergi, berani mengambil keputusan dan kebanyakan mampu menjadi
pemimpin yang kuat. Pada saat mereka tua akan menjadi sekelompok orang tua yang
mampu memberi kontribusi dan kritikan terhadap masyarakat.
3. Generasi
Z
· Merupakan
generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai
aplikasi komputer. Informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan
maupun pribadi akan mereka akses dengan cepat dan mudah.
· Sangat
suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring
sosial seperti facebook, twitter atau SMS. Melalui media ini mereka jadi lebih
bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan.
· Cenderung
toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan.
· Terbiasa
dengan berbagai aktifitas dalam satu waktu yang bersamaan. Misalnya membaca,
berbicara, menonton, dan mendengarkan musik secara bersamaan. Hal ini karena
mereka menginginkan segala sesuatu serba cepat, tidak bertele-tele dan
berbelit-belit.
· Cenderung
kurang dalam berkomunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan
individualis, cenderung ingin serba instan, tidak sabaran, dan tidak menghargai
proses.
C.
SARANA DAKWAH ISLAM dari SUDUT PANDANG TEORI GENERASI
Melihat dari banyaknya pimpinan baik
itu negara maupun perusahaan saat ini, generasi X masih mendominasi. Sementara
itu generasi Y masih menggeliat, mencari kemapanan dalam bidang pekerjaan
maupun pribadi, tidak dipungkiri beberapa sudah menjadi pimpinan sebuah perusahaan
sejak usia muda. Generasi Z yang merupakan keturunan dari generasi X dan Y,
sekarang ini merupakan anak-anak muda yang rata-rata masih mencari jati diri.
Generasi X, Y, dan Z masing-masing
mempunyai sifat positif dan negatif. Dengan memahami perbedaan mereka,
diharapkan para pendidik atau para pemimpin perusahaan dapat mengerti
individu-individu dari tiga generasi ini sesuai dengan ciri khas nya. Tentunya
tantangan generasi Z lebih besar daripada generasi Y atau X sebagai generasi
sebelumnya.
Bagi para generasi X dan Y yang
sudah dan akan memiliki generasi Z atau Alpha sebagai generasi penerusnya tentu
harus sudah memahami karakteristik generasi termuda ini. Generasi ini patut
diawasi terutama penggunaan internetnya, tapi tentunya tidak dikerasi. Sebagai
orang tua, generasi X dan Y harus bersikap tegas tapi lembut dan sabar,
membangun dialog dan komunikasi yang sehat serta terbuka, hadir secara utuh
mendampingi mereka, serta memberikan pendidikan dengan nilai karakter positif
dengan penuh cinta.
Bagi perusahaan, generasi Y dan Z
mengharapkan pimpinan yang jujur. Semakin pimpinan jujur, maka akan semakin
dihormati. Jejaring sosial dapat dimanfaatkan bagi para pimpinan untuk berbagi
kegiatan sehari-hari bersama para karyawannya. Perusahaan sebisa mungkin
menciptakan budaya kerja yang unggul dimana karyawan memiliki teman yang
terlibat dalam pekerjaannya dan mendapat tunjangan.
Sesungguhnya ada hal yang lebih
penting dari uraian di atas yaitu sejauhmana generasi-generasi ini –dengan
kemampuan yang dimilikinya– dapat menimba pengalaman-pengalaman yang telah
diperoleh sehingga dapat merefleksikan diri untuk menghasilkan
tindakan-tindakan terbaik di masa yang akan datang. Dengan kata lain diperlukan
sebuah kebijaksanaan dalam proses berpikir, bertutur kata, dan bertindak.
Ilmu berupaya mengungkapkan realitas
sebagaimana adanya. Namun demikian hal ini tidak terlepas dari bagaimana
manusia seharusnya menyikapi realitas tersebut. Di sinilah muncul dimensi moral
dalam ilmu pengetahuan. Hasil kegiatan keilmuan memberikan alternatif untuk
menentukan keputusan-keputusan berdasarkan pertimbangan moral. Menurut Fuad
Hasan (2010), tanggungjawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut juga
tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Dalam hal ini generasi-generasi ini
perlu menjadikan dimensi moral ini sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam
menentukan keputusan-keputusan yang akan diambil.
Kebijaksanaan dalam mengolah informasi merupakan sebuah sikap dalam merespons
informasi yang diperoleh. Terdapat dua sisi yang dapat dipertimbangkan yaitu
dampak positif dan dampak negatif. Neraca positivitas dan negativitas perlu
dipertimbangkan secara proporsional. Keputusan untuk merespons informasi
menjadi pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman dan pertimbangan
positif-negatif inilah yang merupakan sebuah kebijaksanaan. Kebijaksanaan
merupakan kunci dalam mengukur sejauhmana optimalisasi generasi Z dapat
mengolah informasi sehingga bermakna bagi kehidupan dirinya dan kehidupan orang
lain.
Era globalisasi memiliki pengaruh
yang kuat disegala dimensi kehidupan masyarakat. Tanpa sadar perkembangan zaman
telah membawa masyarakat masuk kepada pola budaya yang baru dan mulai
menentukan pola pikir serta perilaku masyarakat. Pembaharuan yang berwujud
perubahan, ada yang ke arah negatif dan ada yang ke arah positif. Pengaruh
perkembangan tersebut juga tidak bisa terlepas dari perkembangan TIK dan
berkaitan dengan aspek-aspek lain seperti sifat komunikator, isi/informasi dari
media, serta tanggapan dari masyarakat. Walaupun pada hakikatnya media massa
dan TIK yang bersifat informatif dan komunikatif itu hanya berjalan satu arah.
Disini letak tantangan bagi Pendakwah –Da’I/ah–, di zaman sekarang sudah
saatnya harus merubah paradigma pembelajaran dan keterampilan sarana dakwahnya,
terutama terkait pemanfaatan TIK sebagai media dakwah, yang membuat aktivitas
penyebaran Agama Islam menjadi menarik dan interaktif. Sehingga sudah menjadi
keharusan setiap pendakwah untuk meng-upgrade keterampilannya memanfaatkan TIK
dalam menjadikannya sebagai media dakwah yang akan lebih dapat diterima oleh
generasi-generasi sekarang.
Menyebarkan Islam dari generasi ke generasi sangatlah membutuhkan konsepan dan
sarana yang baik, sesuai dengan sasaran dakwahnya. Untuk kalangan generasi X,
gaya dakwah dan sarana dakwah yang berbasis konvensional mungkin bisa diterima,
namun jika sudah memasuki generasi Y dan atau Z yang sudah mulai modern, maka
menggunakan gaya konvensional sudah tidak akan efektif dan efisien mengingat
corak dan model dari generasi tersebut sudah mulai dipengaruhi perkembangan
zaman, semisal sudah mulai gemar menggunakan internet dll,.
Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pola pikir, perbedaan sifat yang
berdampak pada pengambilan sikap, hubungan sosial sehari-hari, dan perbedaan
budaya. Sadar atau tidak sadar masyarakat sering dipengaruhi oleh media massa,
misalnya media membujuk untuk menggunakan suatu produk tertentu ataupun secara
tidak langsung membujuk untuk mendukung ideologi politik tertentu.[2] Dari sini, peranan agama sangat diperlukan, guna
sebagai filter bijak dari berbagai macam komunikasi informasi yang diterima
agar tidak ada pemahaman mentah yang diterima khalayak publik. Bahkan pemeluk
suatu agama bisa turut memanfaatkan perkembangan media dan teknologi yang ada.
Terkadang pemaknaan pada cara berdakwah sering kita batasi sendiri, dengan
menggangap bahwa sarana berdakwah hanya bisa dilakukan dengan berdiri diatas
mimbar dan berceramah. Padahal seandainya umat beragama mau membuka mata,
terlebih umat Islam, maka perkembangan zaman seperti kemajuan teknologi mampu
dijadikan peluang sebagai sarana berdakwah.
Karena jika umat Islam yang berkewajiban berdakwah terus menutup mata akan
peluang atas perkembangan zaman, dan tetap memakai model dakwah konvensional
maka bisa dipastikan Ajaran Islam akan semakin tertinggal. Umat Islam harus
mampu menemukan cara baru atau memperbaharui cara konvensional menjadi model
yang lebih baru lagi. Seperti mulai berdakwah dengan memanfaatkan media massa –
buku, majalah, Koran – atau media online – Website, Facebook dsb,. – Karena
sebenarnya keberadaan dari kemajuan teknologi ini juga bisa dimanfaatkan untuk
sarana dakwah, yang konten dan konteksnya berisikan tentang Al – Qur`an dan As
– Sunnah namun bisa tersebar dimana-mana. Dengan begitu, dakwah akan jauh lebih
efisien karena hanya tinggal duduk didepan laptop atau komputer yang tersambung
koneksi internet, kita bisa mengakses sesuatu bertema Islam dan semacamnya.
Selain itu, Ajaran Islam juga bisa disebarkan melalui media elektronik. Pesan
dakwah disampaikan melaui televise atau radio. Penyiar membawakan pesan dakwah
untuk para pendengar dan pemirsanya. Namun Ironinya, semua perkembangan zaman
dan pemanfaatannya jarang sekali disadari oleh para pegiat dakwah. Padahal membuka
mata akan keadaan yang ada itu perlu adanya
DAFTAR PUSTAKA
id.m.wikipedia.org/wiki/dakwah/
Ali Aziz, M.Ag, Prof. Dr. Moh. 2004 . Ilmu Dakwah, (Jakarta : Kencana).
Makalah
Perilaku Teori Generasi
–Program Pascasarjana Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pasundan
Bandung–
Sumber
: diolah dari berbagai informasi di internet dan literatur
Kunjungi tulisan lainnya : http://fadilasn.co.id
[1] id.m.wikipedia.org/wiki/dakwah
Komentar
Posting Komentar