TU FAKULTAS: IA PERGI MEMBAWA SELEBARAN BACAANKU
TU FAKULTAS: IA
PERGI MEMBAWA SELEBARAN BACAANKU
Sore ini, tepat 16.30 WIB aku dikagetkan dengan sesuatu
yang tidak biasa. Ntah ini terlalu berlebihan atau memang memprihatinkan. Yang
pasti sangat membuat diri ini tercengang dan tegang, karena mendapat perlakuan
yang demikian.
***
Selepas menyelesaikan urusan dari dalam fakultas. Aku bergegas keluar, berniat segera kembali ke bilik kos tempat peristirahatan dari
perantauan, mengingat memang sudah tidak ada lagi keperluan di fakultas. Namun,
melihat Koran di depan fakultas nampak sedang sepi pembaca, perlahan gontaian
kaki ini mulai berangsur pelan. Melihat perwajahan Koran, aku berkeliling
hanya sekedar ingin melihat artikel atau berita mana yang menarik perhatian.
Berawal dari membaca headline Koran Jawa Pos edisi
13 April 2017 hari ini, yang menyajikan berita tentang Novel Baswedan -yang
disiram air keras, saat ini di rujuk ke RS Singapura-. Kemudian beralih ke rubrik
opini yang sedang membahas Kedudukan mahkama konstitusional. Hingga sebelum akhirnya
perlakuan yang tidak layak untuk dilakukan itu terjadi. Saat itu aku sedang
tertarik membaca rubrik Delta People yang sedang menyajikan profil
wanita-wanita tangguh berprofesi polisi, security dan semacamnya di Koran
Harian Jawa Pos hari itu. Yah berdekatan dengan Hari Kartini memang.
Namun, belum selesai membaca artikel tersebut,
mendadak dari arah kiri nampak seorang lelaki mulai mendekati mading
kaca yang menjadi tumpuhan selebaran koran itu agar bisa berdiri tegak, dengan
di bantu penjepit baju yang difungsikan sebagai pengaitnya. Tidak melihat
secara langsung memang, hanya saja bayang-bayangnya terlihat dari arah kiri
mata. Karena aku sedang berusaha terus fokus pada artikel yang sedang dibaca, dugaku hanya lelaki itu pasti juga sedang menikmati bacaannya. Namun, masih
pada taraf belum selesai membaca, lelaki itu tampak semakin mendekat. Bukan
disamping kiriku, tapi posisinya tepat di depanku yang sedang berdiri
seakan membaca.
Terkejut!
Sontrak benar-benar terkejut!
Mendadak lelaki itu membuka ganggang kaca mading
tepat dimana selebaran koran yang sedang ku baca itu dikaitkan. Bukan, bukan
untuk berbagi pengalaman atas apa yang sudah saling dibaca. Lelaki itu
bertingkah jauh di luar dugaan. Ia mengambil apa yang sedang ku baca. Ternyata,
Ia membuka kaca mading untuk membereskan koran yang saat itu memang masih
dikaitkan disana.
Lagi-lagi terkejut. Bukannya ia menantikan ku yang
tengah membaca, atau sekedar berpamit ria untuk menyelesaikan tugasnya sebagai
bagian umum fakultas yang harus segera mencopoti koran dalam mading kaca itu untuk
segera diarsipkan. Ia dengan serta merta mengambil koran itu dari tempatnya.
Aku yang terngangah menyaksikan kelakuannya hanya
mampu terdiam dan terus memandang lekat tingkahnya. Bagaimana tidak? Ia
mengambil apa yang sedang ku baca. Bacaan yang belum tuntas ku selesaikan.
Tidak sadarkah ia, ada aku yang sedang mencoba menyerap beberapa makna dari
koran yang berusaha ia bereskan.
Ia pergi membawa selebaran-selebaran koran itu, ia
berjalan agak cepat, ia terbirit-birit membalikkan badan membelakangiku tanpa
menoleh atau sekedar melihat ke arahku. Tidak… Bukan ingin beradu tatap
dengannya, hanya tidak menyangka saja. Bisa-bisanya ada seorang pekerja bagian
umum di fakultas saya yang sikapnya seperti itu. Terus menjalankan tugasnya
tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Bayangkan, kau tengah asyik membaca dan terbawa
isi tulisan dalam surat kabar. Mendadak ada tangan jahil yang mengambil
bacaanmu tanpa berpamitan. Tidakkah kau jengkel karenanya? Sudah belum tuntas
mengkaji isi artikel yang sedang dibaca, ditambah ada tingkah kurang baik yang
tiba-tiba mengambil bacaan kita tanpa permisi atau berkata.
Surabaya, 14 April
2017
Muantap jiwa
BalasHapusHuahahahay :)
Hapus