POSITIF!
POSITIF!
Oleh :
Eileen Rachman & Billy Latuputty*
Pernahkah pada tahun 2016, kita
menghitung, berapa persen bacaan yang positif berbanding dengan yang negatif?
Bahkan, sekarang, hal yang jenaka dan menarik, sering pula kita tanggapi secara
sinis dan miring. Padahal, kita sedang menghadapi
berbagai perayaan tutup tahun dan akan menyambut tahun yang baru. Kita tahu dan
sangat sadar bahwa setiap orang mempunyai kekurangan. Namun, kita tampak
semakin hari semakin gemar mengekspos kekurangan orang lain, dan seolah
terheran-heran membaca kelemahan mereka. Apakah hal ini tidak berbahaya? Bagaimana
kalau generasi penerus kita hidup dalam dunia yang lebih negatif dibandingkan
era ketika kita dibesarkan? Banyak penelitian sudah tegas menyatakan bahwa
memang pada hakikatnya, manusia lebih suka bereaksi terhadap hal yang negatif daripada positif.
Demikian pula bau busuk kritik yang
biasanya memang tidak membangun akan lebih bertahan daripada wanginya pujian.
Bahkan, di dalam sebuah percobaan yang dilakukan seseorang perlu
mengingat-ingat kejadian emosional penting dalam hidupnya, ternyata ditemukan
bahwa rata-rata individu akan mengingat satu kejadian positif dan empat
kejadian negatif. Inilah yang menyebabkan orang juga enggan menerima masukan
atau menghindari kritik karena di dalam benaknya orang sudah sarat dengan
memori negatif, baik tentang dirinya maupun orang lain.
Penelitian lain juga membuktikan bahwa
organisasi yang berisikan orang-orang yang hanya membicarakan masalah,
kekurangan dan kelemahan ternyata gagal mencetak anggotanya untuk mencapai
prestasi puncak. Bukankah ini sangat berbahaya? Apa jadinya kalau kita senegara
berpikiran negatif semua? Jelas bukan bahaya penggunaan ponsel pintar berlebihan
saja yang perlu diwaspadai, melainkan beredarnya pernyataan-pernyataan secara
konstan, akan merusak mental kita dan anak cucu kita.
Dalam ilmu manajemen kinerja, ada
petunjuk untuk memberi istilah kelemahan atau kekurangan sebagai ‘opportunites for improvement’. Alih-alih
melabelnya dengan istilah yang negatif dan terkesan tidak bisa diubah, mari
melihatnya dari sisi yang lebih positif, yaitu masih terbuka peluang untuk
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Kita pun bisa menggunakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Bisa kita bayangkan, bila dalam suatu lingkungan kita
menjadi orang-orang yang haus akan kesempatan untuk bertumbuh karena memang
banyak hal yang masih perlu kita kembangkan. Bukankah nyata bedanya?
Mencari
Kesempatan
Kita tahu bahwa suasana organisasi itu
menular. Demikian pula halnya terjadi dalam organisasi yang lebih besar,
misalnya negara. Lingkungan yang giat akan menukarkan suasana kerja yang giat
pula. Itulah sebabnya dalam organisasi kita tidak bisa memilah-milah dan
memilih siapa yang perlu dikembangkan dan siapa yang bisa dibiarkan. Bahkan,
petugas kebersihan pun perlu diyakinkan bahwa ia bisa mencapai prestasi yang
lebih baik. Bila dalam lingkungan social tertentu, banyak beredar komentar
positif, tumbuhlah suasana berkembang, bahkan pada tukang sapu sekalipun.
Hal-hal yang negatif membuat orang
menjadi defensif. Orang yang defensif akan sibuk melindungi dirinya, mencari
berbagai macam pembenaran, dan kehabisan waktu serta tenaga untuk mengembangkan
dirinya. Dalam kondisi semacam itu, bagaimana mungkin kita berkesempatan untuk menggali
‘personal best’ masing-masing orang. Bagaimana mungkin kita mampu menjual
atau menikmati kinerja puncak setiap individu? Energy masing-masing sudah
ditahan dalam dirinya, dan membentuk lapisan kertas anti umpan balik dan sifat
“malas berubah”.
Organisasi
positif
Walaupun belum banyak yang melakukan, kita bisa menuliskan
pernyataan misi dengan menyelipkan kata positif didalamnya. Kita perlu meyakinkan
setiap individu yang tergabung bahwa salah benar akan ditanggapi dengan positif,
kita perlu mengembangkan suasana adversity,
bounce back, dan mencari bahan untuk menciptakan sebanyak mungkin
kesempatan untuk perbaikan. Kita perlu menyebarkan tingkat-tingkat kesuksesan
baru bagi setiap individu, misalnya, dalam suatu organisasi, ada keharusan bagi
setiap individu yang menyampaikan masalah, untuk menyertai pernyataan itu
dengan empat pernyataan yang bernada perbaikan, berenergi positif, dan meningkatkan
kinerja.
Dengan demikian, terjadilah dinamika positif dalam organisasi dengan banyak menyebut kata ‘resilience’, kekuatan, vitalitas, dan rasa percaya yang akan memberi efek positif, kepada produktivitas dan prestasi. Kita harus meninggalkan kultur caci maki, seperti yang sedang beredar di Negara ini. Kita perlu mengembangkan sikap fleksibel dan merayakan setiap prestasi sekecil apapun. Bisakah kita membayangkan kalau suasana positif ini menggema dan membudaya di setiap sudut Negara kita? Di setiap pelosok, kita akan bertemu dengan berbagai individu yang optimis, terbuka dan rela berinteraksi. Kita pun lalu menjadi Negara yang kompetitif karena berisikan manusia-manusia yang gesit, cerdas dan mau belajar. Bagaimana dengan kesalahan dan kekurangan? Tentu kita bisa mengolah umpan balik dengan sikap analitis, mempelajari polanya dan kemudian membangun komitmen untuk mengubah, dan mengevaluasinya lebih lanjut. Orang tua kita dulu mendidik dalam kesantunan, yang memberikan sumbangan positif terhadap perkembangan saat ini. Mari kita tularkan kebaikan-kebaikan ini juga kepada generasi penerus. Hanya dengan cara ini kita bisa menjadi bangsa yang “diatas rata-rata”.
Dengan demikian, terjadilah dinamika positif dalam organisasi dengan banyak menyebut kata ‘resilience’, kekuatan, vitalitas, dan rasa percaya yang akan memberi efek positif, kepada produktivitas dan prestasi. Kita harus meninggalkan kultur caci maki, seperti yang sedang beredar di Negara ini. Kita perlu mengembangkan sikap fleksibel dan merayakan setiap prestasi sekecil apapun. Bisakah kita membayangkan kalau suasana positif ini menggema dan membudaya di setiap sudut Negara kita? Di setiap pelosok, kita akan bertemu dengan berbagai individu yang optimis, terbuka dan rela berinteraksi. Kita pun lalu menjadi Negara yang kompetitif karena berisikan manusia-manusia yang gesit, cerdas dan mau belajar. Bagaimana dengan kesalahan dan kekurangan? Tentu kita bisa mengolah umpan balik dengan sikap analitis, mempelajari polanya dan kemudian membangun komitmen untuk mengubah, dan mengevaluasinya lebih lanjut. Orang tua kita dulu mendidik dalam kesantunan, yang memberikan sumbangan positif terhadap perkembangan saat ini. Mari kita tularkan kebaikan-kebaikan ini juga kepada generasi penerus. Hanya dengan cara ini kita bisa menjadi bangsa yang “diatas rata-rata”.
*Experd Character Building Assessment
& Training
Tulisan ini pernah dipublikasikan Koran Harian Kompas, Sabtu 24 Desember 2016

Komentar
Posting Komentar