URGENSI BERKATA BENAR





URGENSI BERKATA BENAR



Oleh : KH Agoes Ali Masyhuri*

            Ketika Gus Dur menjadi Presiden, salah seorang asistennya yang bertugas di Istana Negara memiliki latar belakang anggota TNI Angkatan Laut. Namun, belakangan diketahui tidak bisa berenang. Dia sering digoda dan diusili teman-temannya. Dalam kesempatan tertentu, seorang ajudan menghadap presiden. “Lapor Pak Presiden, ini lho ajudan bapak, masak TNI Angkatan Laut kok tidak bisa berenang!”
            Keruan saja, ajudan TNI-AL tersebut langsung tegang, melotot, tidak menyangka bila ada yang nekat melaporkan hal-hal sensitif. Tapi, ternyata Presiden Gus Dur merespons dengan datar-datar saja. Gus Dur menjawab. “Lha itu, ada yang dari Angkatam Udara juga nggak bisa terbang kok...” Suasana menjadi cair, penuh canda, dan tawa.
+++
            Dalam pergaulan dengan sesama, dibutuhkan sopan santun dan tata karma. Lukanya tubuh kena pisau, masih gampang dicari obatnya. Harapan untuk sembuh sangat terbuka. Tapi, lukanya hati kena ucapan yang menyakitkan, sulit dicari obatnya, Ketahuilah, lidah orang berakal berada di belakang hatinya dan hati orang bodoh berada dibelakang lidahnya. Orang yang berakal sehat tak akan mengucapkan sesuatu sebelum dipikir masak-masak, sementara orang bodoh bila berbicara tanpa dipikirnya terlebih dahulu.
            Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, jalan yang harus ditempuh hanyalah satu, yaitu mentaati Allah dan Rasul. Jangan berbicara kecuali benar dan bermanfaat karena setiap kata-kata pasti didengar Allah dan harus kita pertanggung jawabkan. Berpikir dan menimbang sebelum bicara menjadi satu keharusan. Bertanyalah selalu, pantaskah saya bicara seperti ini? Benarkah perkataan ini kalau saya ucapkan?
            Ada perkataan yang benar, tetapi tidak tepat situasi dan kondisinya.
            Islam mengistilahkan kebenaran dalam perkataan sebagai qaulan syadida. Apa syaratnya? Pertama, apa yang dikatakan harus benar. Benar di sini mengandung arti, perkataan kita harus sesuai kenyataan, tidak menambah-nambah maupun mengurangkan.
Sebagaimana sabda beliau Rasulullah SAW, “Biasakan berkata benar karena kebenaran menuntun pada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Hendaklah seseorang itu berkata benar sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang amat benar (Muttafaq ‘alaih).”
            Kedua, setiap kata memiliki tempat yang tepat dan setiap tempat itu memiliki kata yang tepat. Tepat di satu tempat belum tentu tepat di tempat yang lain. Ada hal yang tepat di mata orang tua, tetapi di amat anak muda kurang tepat. Tepat menurut guru, tetapi menurut murid belum tentu tepat. Kebenaran dakam berbicara belum cukup. Dibutuhkan kecerdasan membaca situasi dan objek yang diajak bicara. Pengemasan komunikasi tidak kalah penting dengan isi pesan yang akan dikomunikasikan.
            Ketiga, kita harus bisa mengukur apakah kata-kata itu melukai atau tidak. Sebab, sensitivitas setiap orang berbeda-beda. Jika sebuah pembicaraan terasa biasa-biasa saja bagi seseorang, bisa saja pembicaraan tersebut menjadi sangat menyinggung bagi orang lain. Pertanyaan, “kapan menikah?” adalah pertanyaan yang menggelikan bagi anak SMA, tetapi menjadi pertanyaan yang sangat memberatkan bagi seorang gadis yang berusia 40 tahun.
            Keempat, pastikan perkataan itu bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan lurus iman seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sebelum lurus lidahnya, dan tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lidahnya (HR. Ahmad).
Belajar mendengarkan
            Kita harus mendengarkan. Mendengar belum tentu mendengarkan. Mendengar sekadar menyerap suara, sedangkan mendengarkan tidak sekadar menyerap suara, tetapi juga menyimak dan mengolah apa yang kita dengar. Karena itu, dengan mendengarkan, kita akan paham dan dengan paham kita bisa berubah.
            Mendengarkan terkait erat dengan keterampilam untuk fokus. Cahaya matahari yang difokuskan oleh suryakanta bisa membakar kertas dan bahan lainnya. Kalau kita berkonsentrasi, informasi dan ilmu pun akan menjadi focus sehingga semangat sudah menyala. Kalau semangat sudah menyala, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk sukses. Karena itu, kita harus belajar mendengarkan, menyimak, dan memfokuskan diri untuk memahami. Dengan pemahaman yang benar, insya Allah kita bisa bertindak benar dan proporsional.
            Kesimpulannya, mendengarkan harus lebih banyak daripada berbicara. Allah SWT menganugerahkan tujuh lubang di kepala. Ada 2 di telinga, 2 di mata, 2 di hidung, dan 1 di mulut. Mulut adalah lubang terbesar. Apa artinya? Berpikir harus lebih banyak dari berbicara: enam input dengan satu output. Kumpulkan input melalui mata, telinga dan pembau, lalu fokuskan untuk menghasilkan kata-kata berkualitas melalui mulut.
            Ya Allah, anugerahkan kepada kami kejujuran dalam berucap dan keikhlasan dalam beramal. Ya Allah, jadikanlah amal kami tulus ikhlas karena mencari keridhaan-Mu serta terimalah di sisi-Mu dan selamatkan kami dari fitnah global ini. Ya Allah, tutuplah aib-aib kami dengan tirai-Mu yang tidak mungkin tersingkap dan masukkan kami ke dalam rahmat-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang saleh.

*) Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jatim (@gusali_bhs)
Tulisan ini pernah dipublikasikan Koran Harian Jawa Pos, Jumat 27 Mei 2016


Kunjungi tulisan lainnya : http://fadilasn.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini