BAHASA APA NAMANYA
BAHASA APA
NAMANYA
Oleh :
Anindita S Thayf*
Modernisasi di Indonesia yang melaju
pesat pasca-reformasi dan ditopang oleh kemajuan teknologi informasi yang belum
pernah terbayangkan sebelumnya telah melahirkan kelas menengah dalam jumlah
melimpah di kota-kota besar. Sebagai generasi yang telah menginternasional,
mereka berpatokan dalam menjalani kehidupan pada segala sesuatu yang berasal
dari mancanegara, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Mulai dari cara
berpakaian, menata rumah, menentukan tempat dan cara berlibur, hingga selera
makan. Mereka juga tak lagi canggung menggunakan bahasa Inggris dalam
percakapan sehari-hari. Anak-anak sudah terbiasa memanggil ibu mereka dengan
sebutan Mom dan bapak mereka dengan Dad sembari menyapa “good morning” saban pagi.
Selain yang berkiblat ke Eropa dan
Amerika, muncul pula kelas menengah yang menjadikan Timur Tengah sebagai
kompas. Oleh kelas ini, bahasa Arab yang digunakan masyarakat Timur Tengah
dipilih sebagai bahasa kedua. Jadilah bahasa Arab pesaing baru bahasa Inggris.
Selain diajarkan di sekolah-sekolah, bahasa Arab juga mulai mewarnai percakapan
sehari-hari, baik di dunia nyata maupun maya. Maka lahirlah anak-anak yang
terbiasa memanggil ibunya dengan sebutan Ummi
dan bapak dengan Abbi.
Ludwig Wittgenstein menyatakan bahasa
serupa alat. Sebagai alat, bahasa bisa mengemban tugas yang tak terhitung
jumlahnya. Tentang fungsi, itu bergantung pada apa yang hendak dituju si
pengguna bahasa. Dengan demikian, latar belakang yang berbeda dari seorang
pengguna bahasa akan menghasilkan pengertian yang tidak seragam untuk satu kata
yang sama. Salah satu fungsi bahasa asing bukan semata-mata untuk
berkomunikasi, tetapi juga untuk membedakan manusia kelas tersebut dengan
manusia kelas lain di masyarakat, seperti buruh atau tani. Sebagai alat unjuk
diri kelas, semakin sering seseorang menggunakan bahasa asing yang dicampur
bahasa Indonesia semakin dianggap maju.
Bahasa asing yang sekarang sedang tren
adalah bahasa Inggris dan Arab. Seorang anak yang belum tahu beda antara bahasa
ibunya dengan bahasa pengantar sekunder sering kali akan mencampurnya dalam
percakapan. Maka, muncullah kalimat seperti, “Ummi, aku mau banana.”
Memang terkesan lucu bila kalimat itu diucapkan oleh anak-anak, tetapi
bagaimana bila hal itu berlanjut hingga mereka dewasa? Masih pantaskah bahasa
campur-aduk semacam itu disebut bahasa Indonesia?
Pertanyaannya sekarang adalah sampai
kapan bahasa Indonesia mampu bertahan dari penggerusan bahasa-bahasa asing
lewat gejala berbahasa seperti yang terjadi saat ini? Bila 10 kata dalam bahasa
Indonesia diganti dengan 10 kata bahasa asing perhari, maka bagaimanakah nasib
bahasa Indonesia sepuluh tahun ke depan–masih bisakah seutuh sekarang? Dan, apa
pula jadinya bila modernisasi mendorong masyarakat menjadikan lebih banyak
bahasa asing sebagai bahasa pengantar sekunder?
Saat ini masyarakat masih sanggup
membedakan antara bahasa Indonesia dan bahasa bangsa lain, antara bahasa ibunya
dengan bahasa kedua. Namun bagaimana dengan generasi masa depan yang sudah
menggunakan “bahasa (yang entah) apa namanya” itu sejak kecil?
Barangkali tidak lama lagi kalimat ungkapan
kebanggaan “Damn, ana cinta
Indonesia!” akan menjadi jargon yang menasional dari para pemuda Indonesia yang
mengaku patriotic. Namun, sebelum hari itu tiba, baiknya kita panjatkan doa
semoga bahasa Indonesia diberi umur panjang sehingga kita tak perlu repot-repot
mengubur sebagaian isi Sumpah Pemuda hanya gara-gara satu bahasa (yang entah)
apa namanya.
*Penulis Novel, Tinggal di Yogyakarta
Tulisan ini pernah dipublikasikan Koran Harian Kompas, Sabtu 24
Desember 2016
Kunjungi
tulisan lainnya : http://fadilasn.co.id

Komentar
Posting Komentar