RASA DAN JIWA, BAHAGIA ITU NAMANYA
RASA DAN JIWA, BAHAGIA ITU NAMANYA
Yah,.
Kali ini kembali sesegukan menemani tiap tarikan
nafas,
Butiran air mata jatuh membasahi kulit wajah,
Sedikit pening merayap kepala,
Bukan,.
Bukan soal sedang layu apalagi rapuh,
Hanya tentang rasa yang kembali tersentuh,
Mengingat Ayah, Merindu Ibu,
.
Kemarin, selepas mengajak kawan
mentrasnfer uang di atm dekat kampus. Kiriman file yang sedang ditunggu
mendadak datang. Ku tatap ponsel, membuka email. Nampak foto manusia terhebat
ada disana. Ibu Ayah. Abah Umik biasa ku memanggilnya. Ku tatap, ku usap.
Nampak indah ciptaan-Nya, yang hanya tergambar lewat file yang baru ku terima.
Ku pandang lekat tiap inci dari gambar, ku
merindukan mereka.
Banyak bunga menyelimuti jiwa.
Kau tahu? Entah ini perasaan apa? Ku duga ini
namanya bahagia.
Kembali butiran air menetes dari pelupuk mata.
Kawanku hanya berdiam saja, mungkin
mengerti bahwa hati sedang diselimuti bahagia. Tidak ingin membuyarkan suasana.
Diam melihatku kembali menjadi pilihannya. Ia yang ku tahu sedang berpuasa,
menatap langit melihat jam tangan. Memastikan waktu berbuka masih lama. Kembali
melihatku, yang sudah mulai bisa mengendalikan rasa, ia menyapaku dengan senyum
manisnya. Aku yang tersadar ia harus segera pulang, menyiapkan sesuatu untuk
berbuka. Ku ucapkan maaf, telah menyita waktunya, yang dibalasnya dengan
“Santai Saja,”.
Semoga kemurahan hatimu dibalas oleh-Nya kawan…
.
Sesampainya di kamar, setelah
mengantarkan kawan yang ku buat ia mendengar kumandang adzan maghrib
dipertengahan jalan, ku kembali membuka ponsel, memandangi wajah para
malaikatku. Abah Umik, bunga dalam jiwa ini semakin banyak saja.
Ku sapa seorang kawan lainnya, yang ku
rasa bisa ku ajak berbagi bahagia. Saat itu, ku tak bisa berbagi dengan
keluarga, karena keterbatasan media yang ada. Yah,. Kebahagiaan ini semakin
lengkap saja. Respon kawan ku itu mengimbangi keadaan rasa juga jiwa yang sedang
ada.
Ini salah satu scenario-Mu, terbaik adanya.
Terimakasih Tuhan, kau kirimkan ciptaan-Mu yang
sungguh Luar Biasa.
Ucap Syukur dan Maha Suci Engkau atas segala
sesuatu.
.
Bagi engkau yang masih bisa melihat Ayah dan juga
Ibu,
Tatap lekat wajah mereka,
Hiasi dengan bahagia, karena bangga pada kita.
Sebelum engkau tak berkesempatan sebagaimana aku,
Yang ditinggal Ibu, hanya berteman Ayah.
Untuk menggapai Cinta Tuhan Alam Semesta, melalui
kasih sayang orang tua.
Surabaya, 31 Maret 2017
08:44 WIB
Komentar
Posting Komentar