MENGEKSPRESIKAN DIRI
MENGEKSPRESIKAN DIRI
“Pikiran boleh tidak tenang,
Namun menghalangi itu bukan solusi,” jelas ibu berbaju cokelat.
Keramaian dan roda
aktivitas mulai berputar kencang ditengah-tengah segerombolan bocah yang sedang
bermain. Tak seperti biasanya, gelap malam yang mulai menyapa tak menghalangi
langkah mereka untuk terus mengayuhkan kaki saling mengejar satu sama lain. Satu
diantaranya, tertinggal jauh dan tak kuasa mengimbangi kecepatan laju bocah
lain, yang berada jauh di depannya.
Tepat pukul lima
Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), terdengar jeritan seorang gadis mungil
akibat terjatuh saat melaju kearah tumpukan sandal yang dijadikan garis finis
di sudut lorong itu. Icha, terduduk sambil sesekali melihat kearah anggota
tubuhnya, memastikan adakah luka yang bermakna sebelum akhirnya kembali bangkit dan
mengejar bocah di depannya.
“Awas...!,”
teriaknya ke arah teman-temannya.
Suara itu
membuyarkan obrolan mereka yang sedang asyik berbincang, dengan topic siapa
yang menang dan siapa yang kalah dalam permainan yang sedang mereka mainkan
itu? Kendati Icha tahu, bahwa ia sudah pasti kalah karena berada di baris
paling akhir saat mengayunkan kakinya. Ia pun malah tersenyum seraya mendekati
teman-temannya dan berkata, “Ayo main lagi, sampai aku menang,” celotehnya
memecah suasana.
Icha adalah anak kecil
dengan perawakan mungil. Ia tumbuh dengah tubuh lebih kurus dari seharusnya,
tingginya pun tidak sejajar dengan teman sebayanya. Sebagaimana keterangan seorang
Ibu, yang pada saat itu sedang membeli makanan di warung dekat tempat
segerombolan bocah itu bermain berkata, “icha memang kecil tapi ia aktif
sekali,” terangnya.
Meski Icha seumuran
dengan teman-temannya, dengan perawakan mungil dan lebih kecil, ia kadang
menjadi bahan ejekan teman sebayanya. Namun, Icha tidak mengubris, seperti kala
itu, ajakan Icha untuk bermain lagi dijawab dengan tanggapan bahwa ia tidak
akan menang sebagaimana biasanya.
Tanpa membalas, Icha kembali mengayuhkan kaki, menggiring roda yang melekat dalam sepatunya. Ia lajukan roda itu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya sampai kembali ke garis start yang juga terbuat dari tumpukan sandal mereka. Hal itu kembali ia lakukan, ia sudah tidak menghiraukan keberadaan teman-temannya yang malah asyik bercengkerama entah membahas apa. Hingga akhirnya ia kembali terjatuh akibat terguling dari roda yang menjadi penyeimbangnya dalam berdiri.
Tanpa membalas, Icha kembali mengayuhkan kaki, menggiring roda yang melekat dalam sepatunya. Ia lajukan roda itu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya sampai kembali ke garis start yang juga terbuat dari tumpukan sandal mereka. Hal itu kembali ia lakukan, ia sudah tidak menghiraukan keberadaan teman-temannya yang malah asyik bercengkerama entah membahas apa. Hingga akhirnya ia kembali terjatuh akibat terguling dari roda yang menjadi penyeimbangnya dalam berdiri.
Spontan ia
langsung berdiri kembali, mengayuhkan kaki kembali, berusaha mengitari garis
start dan finis kembali dan berulang seperti itu. Yah itu Icha, gadis cantik
bertubuh mungil yang sedang bermain sepatu roda.
Dilain sisi, nampak ada wajah khawatir diseberang
sana, yang dari tadi mengarahkan terus pandangannya pada segerombolan anak yang
sedang asyik bermain itu. Kekhawatiran wanita itu tergambar jelas dari raut
wajahnya, ia bimbang, nampak ingin mendekat pada mereka namun ragu. Semacam ada
hal yang mengusik pikiran dan hatinya. Ibu itu berbaju cokelat, sedang berbincang
dengan seorang wanita tua di depan sebuah rumah dekat dengan lahan bermain
anak-anak, namun tak henti memandangi satu diantara mereka.
Ketika ditanya,
apa yang sedang diperhatikannya, Ibu itu menjawab bahwa diantara segerombolan
anak yang sedang bermain itu, ada anak semata wayangnya, anaknya sekarang
sedang bermain bersama teman sebayanya, bermain sepatu roda tentunya. Sebenarnya
ia khawatir, anaknya bermain di tanah beralaskan batu paping yang kasar sekali,
karena anaknya masih belum bisa bermain sepatu roda, ditambah buah hatinya itu
bermain tanpa menggunakan alat pengaman apapun.
Sudah terbilang lama
permainan itu dimainkan anaknya, namun rasa khawatirnya tidak hilang. Baginya,
untuk seorang Ibu, ia tidak bisa memaksa anaknya untuk tetap tinggal dan
berhenti bermain sepatu roda, itu tindakan yang tidak benar. “Sedang musimnya
main sepatu roda memang mbak,”.
Menurutnya,
seorang ibu tidak bisa membatasi ruang ekspresi anak-anak, karena itu bentuk
kreativitasnya. Yang bisa seorang ibu bisa lakukan hanya memberi koridor sebagai
standart untuk anaknya dalam mengekspresikan diri, agar buah hatinya tidak menjadi keliaran dalam
mengekspresikan sesuatu.
Seperti anaknya yang sedang bermain sepatu roda, itu jelas sangat mengganggu pikirannya, ada kekhawatiran wajar dari seorang ibu katanya. Namun ia tidak bisa menghalangi anaknya, dengan catatan ketika maghrib sudah tiba, si buah hati harus segera bergegas pulang dan berhenti bermain. Itu saja syaratnya. “Pikiran boleh tidak tenang, namun menghalangi itu bukan solusi,” jelas ibu yang menggandeng tangan kanan anaknya itu, seraya meninggalkan ku sendirian.
Seperti anaknya yang sedang bermain sepatu roda, itu jelas sangat mengganggu pikirannya, ada kekhawatiran wajar dari seorang ibu katanya. Namun ia tidak bisa menghalangi anaknya, dengan catatan ketika maghrib sudah tiba, si buah hati harus segera bergegas pulang dan berhenti bermain. Itu saja syaratnya. “Pikiran boleh tidak tenang, namun menghalangi itu bukan solusi,” jelas ibu yang menggandeng tangan kanan anaknya itu, seraya meninggalkan ku sendirian.
Senin, 17 Oktober 2016
18.15 WIB

Komentar
Posting Komentar