KAIN PERCA JADI PENYUMBANG LIMBAH TERBESAR DI DUNIA
KAIN PERCA JADI PENYUMBANG LIMBAH TERBESAR DI
DUNIA
![]() |
| Dok. Pribadi |
Miris,
ternyata helaian perca kain selama ini telah menjadi salah satu pemasok limbah
terbesar ke dua di dunia. Tercatat, dalam setahun, ada sekitar 400 miliar m2
kain yang diproduksi di dunia, dengan 15% kain yang dibuang selama proses
pemotongan.
Terhitung
dari 15%, maka akan ada 60 miliar m2 total kain yang dibuang. Jika
diproduksi kembali maka dapat menghasilkan sekitar 26.666.000 kemeja. Data ini
disampaikan oleh Aryani Widagdo, seorang fashion educationist, yang menaruh
perhatian terhadap dampak dari produksi para pegiat dunia fashion.
“Jika
kita membuang kain, maka proses peleburannya akan memakan waktu yang lumayan
lama. Maka bagaimana caranya saat ini kita bisa membuat desain pakaian dari
satu kain tanpa menyisakan satu serat pun,” ujar perintis Arva School of
Fashion itu.
Kesadaran
akan limbah kain inilah yang sebenarnya ingin Aryani bagikan, dengan dibarengi
semangat gerakan produksi
busana nol limbah atau zero waste.
Dalam
keterangannya saat mengisi workshop bersama She Radio dan LT Pro di Pakuwon
Mall. Aryani menyebutkan bahwa inti dari gerakan Zero Waste Fashion
dapat dijelaskan sebagai busana-busana yang dalam proses produksinya
menghasilkan sedikit atau bahkan nol sampah tekstil. “Zero Waste juga dapat dianggap
sebagai bagian dari sustainable Fashion Movement yang lebih besar,” jelasnya,
Sabtu (03/03).
Dalam gathering
bertajuk ‘Road To Zero Waste Kebaya’ tersebut, Aryani juga memperkenalkan
pola-pola kebaya nol limbah melalui fashion show yang diperagaan
tiga model dengan mengenakan enam pola kebaya zero waste rancangannya.
Menurutnya
Zero Waste pada kebaya bisa dijadikan pilihan untuk memperingati Hari
Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April. Hari yang dicatat sebagai
peringatan sejarah kelahiran perempuan hebat pejuang emansipasi wanita asal
Jepara, Raden Ayu Kartini.
“Kebaya sebagai identitas wanita Indonesia di
sepanjang masa patut kita pertahankan dengan menerapkan pola yang nol limbah.
Sebab hingga kini, kebaya tetap menginterpretasikan identitas Indonesia karena
kerap dipadukan dengan batik nasional oleh para penggunanya,” beber Aryani.
Harapnya, wanita kelahiran 6 Juli 1949
ini ingin menumbuhkan kembali kegiatan menjahit di rumah sebagai penyeimbang
terhadap dampak negatif dari Fast Fashion, bersama insan mode guna
menyemarakkan gerakan zero waste.
Surabaya, 03 Maret 2018

Komentar
Posting Komentar