PAGELARAN WAYANG ZAMAN NOW; MAHASISWA ECI UK PETRA ANGKAT BUDAYA BANGSA

PAGELARAN WAYANG ZAMAN NOW; MAHASISWA ECI UK PETRA ANGKAT BUDAYA BANGSA




Bagaimana kabar pentas wayang saat ini? Apa masih digandurungi penggemar sebagaimana jaman orang tua kita dulu? Atau malah hilang bersama kabarnya yang lama tak terdengar?
 
Di Surabaya sendiri, sebagai salah satu kota yang ada di Provinsi Jawa Timur. Bukan kabar baru jika dulu masyarakatnya termasuk pecinta kesenian pagelaran wayang. Seperti ditemukannya terjemahan kisah Mahabarata dan Ramayana dari bahasa India ke dalam bahasa Jawa Kuno oleh pujangga jawa. Meskipun mengubah bahasa, tidak jarang juga ada tambahan falsafah budaya Jawa yang di tambahkan ke dalamnya. Misalnya, Karya Empu Panuluh, Empu Kanwa Arjunawiwaha, dan Empu Sedah.



Hal senada nampaknya baru-baru ini muncul kembali. Mahasiswa Progra English for Creative Industry Universitas Kristen Petra (ECI UK Petra), dua hari kemarin (05-06/12) menggelar pentas wayang modern dengan menggunakan overhead projector (OHP) di Studio Petra Little Theatre, Gedung B lt.2 kampus UK Petra di jl. Siwalankerto 121-131, Surabaya.

Dengan perpaduan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, pentas wayang oleh 13 orang mahasiswa UK Petra disunguhkan dengan begitu unik dan menarik. Empat cerita rakyat Indonesia yaitu Legenda Batu Menangis, Legenda Danau Toba, Roro Jonggrang dan Keong Mas disajikan dalam cerita berbahasa Inggris.

Masing-masing kelompok diberi waktu 10 menit untuk menampilkan satu cerita rakyat yang telah dibagi. Menurut mahasiswi perwakilan dari kelompok yang mengambil cerita Legenda Batu Menangis.

Ia mengaku bahwa pentas wayang tersebut merupakan tugas akhir dari mata kuliah Theatrical Desain. Baginya, tugas akhir kuliah seperti ini sangatlah menantang, karena menuntut daya kreativitas tinggi.

“Prosesnya cukup lama, setelah projek akhir diumumkan, kami segera mencari ide dari berbagai sumber. Ada tahap yang harus kami siapkan mulai dari menulis naskah, membuat storyboard, merancang slide yang dibutuhkan hingga berlatih,” urai Jessica Azalea.

Stefanny Irawan selaku dosen pengampu mata kuliah ini menjelaskan, meski menggunakan teknologi lama, OHP yang memang memiliki keterbatasan bukan berarti bisa dianggap usang dan percuma. Menurutnya, justru keterbatasan itulah yang bisa memunculkan kreativitas para penggunanya.

“Dari tugas akhir mata kuliah Theatrical Desain ini mahasiswa diminta untuk menguasai tidak hanya desain bentuk, namun juga prinsip tata cahaya yang pas, serta teknik menampilkan efek yang mereka mau sesuai dengan ceritanya. Semua harus selaras dan memiliki kesatuan artistic,” ungkapnya.

Tambah Stefanny, disadari atau tidak, pesatnya perkembangan teknologi membuat hal-hal yang ketinggalan zaman menjadi dianggap tidak keren. Duganya, cerita rakyat Indonesia saat ini oleh anak-anak sudah dianggap tidak menarik. Oleh karenanya, ia berharap, hadirnya cerita rakyat dengan pengemasan yang dilakukannya ini dapat menjadikan cerita rakyat tidak ditinggalkan oleh generasi saat ini.

“Semoga dengan hadirnya kisah-kisah rakyat Indonesia melalui pendekatan yang unik ini, kita semua khusunya generasi muda, tidak akan melupakan budaya Indonesia,” harapnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini