BAHAGIA BERSAHAJA DI BALIK DEMAM “TELOLET”
BAHAGIA
BERSAHAJA DI BALIK DEMAM “TELOLET”
Seserius apa pun situasinya, naluri manusia
membutuhkan kegembiraan. Tak terkecuali Presiden Joko Widodo yang merespons
positif munculnya fenomena “on telolet om”. Perbincangan mengenai ungkapan itu
telah menjadu penawar berita-berita serius yang mendominasi isi media massa.
“Om” yang berarti paman dan “telolet” adalah bunyi
klakson multinada pada bus antarkota dan antarprovinsi di Pulau Jawa yang kini
digandrungi anak-anak hingga orang dewasa. Om telolet om merupakan ungkapan
untuk meminta agar pengemudi bus membunyikan klakson melodi itu.
Saat diminta tanggapannya mengenai fenomena itu,
Presiden mengumbar senyum lalu menyampaikan, “Ini kekuatan dan potensi media
social. Menurut saya, ini sebuah kesederhanaan, kesenangan, kebahagiaan dari
rakyat untuk mendapatkan hiburan atau kegemarannya,” kata Presiden saat berada
di acara Deklarasi Pemagangan Nasional menuju Indonesia Kompeten, di Karawang,
Jawa Barat, Jumat (23/12).
Presiden tidak berfikir macam-macam mengenai fenomena
itu. Bahkan, belum terbesit dibenaknya melarang riuhnya bunyi klakson di
jalanan. “Masak baru muncul dilarang. Ya, pasti ada batas-batasnya. Masak bus
baru berjalan dicegat di tengah jalan. Justru (yang mencegat bus) seperti itu
yang dilarang,” kata Presiden.
Ekspresi Presiden ketika melayani pertanyaan tentang
telolet tampak segar, cerah, dan seperti pecah dari kejumudan situasi. Sesuai
wawancara itu, Sekretaris Kabiner Pramono Anung mengundang jurnalis makan siang
di sebuah rumah makan di Jakarta Pusat.
Pramono mengakui, dua bulan terakhir Presiden banyak
disibukkan hal-hal serius. Presiden harus membatalkan kunjungan kenegaraan ke
Australia, membatalkan beberapa rapat terbatas, serta mengagendakan rangkaian
pertemuan dengan pimpinan partai politik, tokoh masyarakat, dan pimpinan
organisasi kemasyarakatan.
Menurut Pramono, fenomena telolet menjadi salah satu
penyeimbang situasi social politik yang sedang dinamis. Pada rentang waktu yang
sama, perendam yang tidak kalah penting adalah pencapaian tim nasional
Indonesia pada piala AFF 2016. “Benar-benar menyegarkan, menghibur, dan
menyatukan rakyat. “Kita butuh hal-hal seperti itu,” katanya.
Mendunia
Anak-anak di jalanan Indonesia menularkan deman om
telolet om ke jagat media social. Selama tiga hari berturut-turut, Rabu hingga
setidaknya Jumat (21-23/12), akun Instagram pemimpin Negara adidaya Donald
Trump terus dibombardir seruan itu. seruan itu bernada olok-olok, berbeda dari
seruan polos anak-anak kepada sopir bus.
Liburan Sekolah
Musim liburan sekolah akhir tahun ini, para petugas
Terminal Kalideres, Jakarta Barat, mendapat kerepotan baru. Dari pagi hingga
sore, puluhan anak-anak dalam rombongan terpisah menyerbu terminal antarkota
yang berbatasan dengan Tangerang itu.
Rombongan itu terdiri atas lima anak berusia 7-11
tahun denga raut kecewa menyingkir. Mereka masih membawa kertas dan kardus
bertuliskan om telolet om yang dari tadi mereka bentang-bentangkan di sisi
jalan.
Tak lama, datang rombongan lain. Bocah-bocah ini tak
kalah antusias dengan rombingan sebelumnya. Wajahnya ceria. Mereka mengerumuni
bus Sinar Dempo yang tengah dibersihkan itu. beberapa melongok ke dalam bus,
penasaran. Sang pengemudi, Yunus Susanto (34), yang tengah membersihkan
teloletnya membiarkan anak-anak itu memuaskan rasa ingin tahunya.
Sepanjang hari, rombongan anak-anak ini silih
berganti dilengkapi telepon pintar dan kertas bertuliskan om telolet om. Mereka
mencegat bus, meminta telolet, lalu merekamnya. Rekaman yang mereka anggap
bagus akan diunggah ke Youtube.
“Sekarang ini dimasukin
Youtube biar bisa masuk tipi Youtube.
Kalay dulu belum, ya, cumin disimpen
buat denger-dengerin. Seneng suaranya,” kata salah satu anak,
M Afifah Jamu (11).
Diantara mereka, ada persaingat koleksi telolet,
baik jumlah maupun jenisnya. Semakin unik nada telolet, semakin dianggap
berharga.
Anak-anak yang tinggal di sekitar Terminal Kalideres
ini hanya memburu telolet yang belum mereka punyai rekamannya. Beberapa ada
yang sampai mencegat bus saat masuk terminal hingga cukup mengganggu. Ibnu
Fauzi Rafif (11) mengatakan, bus yang punya telolet ditandai dengan stiker Bis
Mania Community atau Komunitas Penggemar Bus. “Ini yang banyak tatonya begini
ini, tandanya ada teloletnya,” kata pelajar kelas VI SD itu.
Yunus, sopir bus Jakarta-Pagar Alam, mengatakan
sudah setahun ia mempunyai telolet itu. harganya sekitar RP 1,5 juta. Telolet
ini dia pasang untuk awalnya demi keamanan, yaitu preman yang suka melempar
batu ke bus. “Mereka itu preman yang sengaja ganggu bus dan truk lewat. Nanti
kalau dilempar batu lalu sopirnya kena, biasanya lalu dicegat terus di jarah,”
kata pria asal Pagar Alam itu.
Dengan telolet yang dibunyikan keras-keras, para
penumpang bus akan terbangun atau siap siaga. Biasanya, kata Yunus, preman tak
beraksi kslau telolet berbunyi karena tahu penumpang banyak dan ikut berjaga.
Buah kreativitas
Mengglobalnya om telolet om tak terlepas dari
kreativitas meramu konten bunyi dalam format music remix. Nada melodis tersebut lebur dalam genre populer. Kemudian,
kian tersebar setelah dikicaukan dalam akun Twitter sejumlah disc jockey (DJ) dunia, seperti DJ
Snake, Yellow Claw, Marsmello, Zedd, dan The Chainsmokers.
Jadilah sesuatu peristiwa yang sifatnya sangat
loakal di Indonesia itu mendunia. “Sebenarnya, jika dikemas secara kreatif,
konten-konten positif dalam budaya Indonesia juga bisa diviralkan,” kata
Febrian, antropolog peneliti media social Universitas Indonesia.
Apalagi, menurut Febrian, media social bersifat
emosional. Pengguna bereaksi pada segala unggahan yang menyentuh mereka, baik
yang membuat marah, sedih, maupun tertawa. “Kebetulan, om telolet om dinilai
lucu oleh hampir semua kalangan sehingga penyebarannya pesat sekali,” kaya
Febrian.
Dosen filsafat Universitas Indonesia, Tommy F Awuy,
menilai, fenomena ini menjadi otokritik bagi masyarakat kelas menengah. “Kaum
intelektual mestinya malu dengan anak-anak. Apa yang selama ini kita lakukan?
Apa yang telah kita wacanakan? Apakah bisa mempengaruhi dunia?” ujarnya.
Setelah beberapa hari berlangsung, bahkan sempat
merajai topic pencarian terbanyak dunia (trending
topic) di media social, fenomena om telolet om alias sir horn please sir itu mulai mereda. Tersisa adalah meme-meme dari nada lucu sampai
sindiran.
Media social dengan mudah memopulerkan perilaku
anak-anak di terminal dan jalan-jalan pedesaan pelosok Tanah Air ke meja
penguasa dan pesohor dunia. Lewat media social pula, konteks bisa berubah jauh
dari aslinya. Namun, media ini juga sangat mudah melupakan. Apa yang akan
terjadi dengan om telolet om kemungkinan segera terlupakan, lalu berganti
dengan trem yang lain.
(NDY/IRE/MHF/ABK/DNE/DIT/KRN/GRE/SYA/DIA/IKI/ODY/VIO/WHO)
Komentar
Posting Komentar