BUKAN SEKEDAR MEMBELI



BUKAN SEKEDAR MEMBELI
Oleh: Fadila SN*

Siang membakar Kota Pahlawan. Pancaran sinarnya membawa serta hawa suap yang tak tertahankan. Di sebuah kamar dengan suasana penuh akan uap kepanasan. Nampak seorang gadis mungil tak kunjung berhenti menggerakkan kedua tangannya kekiri dan kekanan.
“Lihat aku masih bisa beraktivitas seperti biasanya bukan? Ayolah, kita kembali saja.” Faihaq melempar wajah melas ke arah wanita dewasa di hadapannya.
Dalam sorot mata seorang ibu, wanita tersebut ikut membalas tatapan putrinya dengan penuh iba. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak tega melihat sang buah hati harus kembali terbaring lemah. Bahkan dengan rasa penuh pilu kerap kali ia harus menyaksikan dengan mata telanjang, bagaimana pedihnya saat sang anak disuntik, diinfus dan diberi tabung oksigen untuk membantu pernafasannya.
“Ini tidak akan lama. Kita hanya perlu bersabar. Sekarang kakak istirahat yah.”
Menyadari permintaannya tidak digubris, Faihaq memutar balik bola mata mencari sosok pria kekar yang selama ini selalu menjaga. Terlihat, pria itu ternyata juga sedang memandang ke arahnya. “Ayah.. ibu tidak mau mengerti. Kakak tidak suka tempat ini.” Faihaq mulai menangis.
“Malaikat Ayah mana boleh cengeng. Sekarang ikuti apa kata dokter, biar kita bisa cepat pulang ke rumah.” Pria itu membantu Faihaq berbaring kembali ke tempat tidur.
Bersama luluhnya sikap Faihaq dihadapan sang Ayah, beberapa kerabat yang mengantarkannya ke rumah sakit mulai mengundurkan diri dari kamar pasien, untuk menunggui gadis mungil ini selesai di periksa. Siang itu, sebelum tersadar dan meminta pulang, Faihaq sempat pingsan dan tergolek lemas.
“Jangan pergi. Tetaplah disini.” Genggaman Faihaq meremas kencang telapak tangan sang Ibunda.
Sontak mata kedua orang tua gadis itu langsung terarah kepada pria berjubah yang mulai memasang ear piece dari stetoskopnya, dan sedetik kemudian dokter pun mengangguk ringan.
“Kamu harus kuat jika ingin putri kita kuat sayang. Yakinlah, semua akan baik-baik saja,” bisik ayah Faihaq kepada sang istri, sebelum akhirnya berlalu dan meninggalkan dua wanitanya di balik ruang yang dominan dengan warna putih itu.
***
Di tempat lain, dengan suara lantang seorang pria berkemeja tosca tengah mengakhiri seminarnya. Dalam kalimat penutup, ia sertakan sebuah tips dalam menjalani hidup . Katanya, “Rumus hidup itu bukan mengejar apa yang kita inginkan. Tetapi memaksimalkan kebisaan kita pada apa yang Allah inginkan terhadap keberadaan kita. Itu saja.”
Nurfa yang masih tersihir oleh kalimat penutup dari sang pemateri hanya mampu duduk terpaku merasakan sensasi yang tak terduga. Entah apa namanya, tetapi semangat belajar Nurfa tiba-tiba tersulut kembali. Tak lain semua itu disebabkan karena ia yang tengah kelimpungan dengan dunia barunya di bangku Perguruan Tinggi.
Dari sekian banyak saran serta nasihat yang diterimanya. Baru kali ini Nurfa dibuat terpanah. Keluhannya selama ini seakan menjadi bualan tak berarti. Nurfa terlahir kembali. Sumbu semangatnya tersulut dan berapi-api. Nurfa kembali siap berdiri dan kian menyadari, bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya kini bukanlah tanpa arti. Semua berjalan sesuai kehendak-Nya, semua pasti sudah menempati posisi sesuai porsi.
Menjadi mahasiswa dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri tidaklah hanya pengharapan seorang Nurfa. Semua siswa lulusan SMA sederajat pasti ingin mendapatkan kesempatan bisa menempuh hal yang sama. Bisa melanjutkan studi apalagi di kampus negeri. Namun hal tersebut baru Nurfa syukuri, setelah sebulan kemarin ia habiskan waktu yang ada hanya dengan menangis seorang diri.
Kala itu, dalam data pengumuman peserta seleksi masuk perguruan tinggi, nama Nurfa tercatat disana. Ia lolos dan berhak menyandang status mahasiswa. Tapi sayang, alis Nurfa sedikit menyatu saat membaca kolom program studi. Gadis berkulit putih itu tidak tahu apapun tentang studi yang akan ia jalani.
Sempat terbesit dalam benaknya untuk tidak mengambil kesempatan yang ada dan mundur secara perlahan sembari mencoba keberuntungannya kembali, dengan harapan dapat diterima di jurusan yang sesuai dengan minat bidangnya selama ini. Namun bersamaan dengan itu pula hati kecilnya menolak, meski sempat ada peperangan sengit yang terjadi.
Bagaimana jadinya jika ia mengambil studi dari program yang tidak ia pahami? Tetapi Nurfa pun tidak sanggup jika harus mengundang kecewa bagi keluarganya. Hingga keputusan melanjutkan studi ia kantongi, dan Nurfa resmi menjadi seorang mahasiswi dari program studi yang sama sekali tidak ia mengerti.
“Hey, acara sudah selesai. Ayo kita ambil bagian selanjutnya.” Sapaan Atuz mengagetkan Nurfa. “Kau pasti tidak paham. Makanya jangan melamun terus,” gerutu Atuz seraya menunjuk tiga banjar yang diisi penuh oleh kerumunan anak manusia.
Mata Nurfa mengikuti arah telunjuk Atuz, ia menjadi begidik dan menekuk dahi. “Apa kita harus terlibat dalam part ini? Kurasa, lebih baik kita segera mencari makan saja. Cacingku sudah berdisko meronta butuh asupan.”
Sempat ada debat diantara mereka, Atuz tetap kekeh ingin mengambil barisan selayaknya ratusan orang yang ada disana, sedang Nurfa dengan tegas menolak untuk terlibat. Hingga jalan mufakat mereka ambil, Nurfa bersedia menunggui Atuz mengantri untuk mendapatkan sertifikat kegiatan sambil nyemil ringan dari konsumsi yang ia dapatkan dari seminar tadi.
            Sembari terus mengunyah, mata Nurfa kembali berkeliling melihat-lihat keadaan sekitar. Dari seberang, Atuz tak henti terus melambaikan tangan ke arahnya. Melalui gerakan tangan sahabatnya, Nurfa menangkap adanya ajakan untuk bergabung dari Atuz.
Merasa lucu, Nurfa mengeluarkan ponsel dari dalam ransel. Ia mengambil beberapa video atas ulah kocak Atuz. Ditulisnya dalam caption, “Atuz Says: Selain ilmu yang bermanfaat, cemilan ringan dan juga sertifikat kegiatan adalah hak setiap peserta.”
Agaknya banyak yang tergelitik dengan status Nurfa, para komentator mulai membalas satu persatu. Ada yang ikut terbahak melihat kegokilan Atuz, ada pula yang mengkritisi isi caption Nurfa. Namun dari banyaknya balasan yang ia terima, Nurfa sangat berbunga-bunga dengan satu diantara beberapa orang yang menyapanya.
“Kak Nurfa... Cilikmu sudah ga ada.”
Senyum mengembang dari balik bibir Nurfa. Dengan cepat ia kembali menarikan jari di layar ponselnya. “Ada apa Cil? Lagi bareng Eriqza yah?”
“Cilikmu kak.. cilikmu sudah kembali ke pangkuan-Nya,” balas seseorang dari kejauhan sana.
Sontak tangan Nurfa bergetar hebat. Wajahnya menjadi pucat pasi. Degup jantungnya berirama tak pasti. Pesan balasan itu membuyarkan senyum yang sempat tercipta.
“Aku ga ngerti maksudmu..” ketik Nurfa akhirnya.
“Kakak ga buka sosmed? Lihat FB kak, atau Ig, semua jelas disana.”
Kini sorot mata gadis putih itu hanya terfokus pada benda yang dipegangnya. Tanpa perlu dikomando lagi, jemari Nurfa sibuk mengetikkan sesuatu. Nafasnya pun kian menderu. Keringat dinginnya ikut memburu. Hiruk piruk keadaan sekitar sudah tak diperhatikannya lagi. Sedetik kemudian, bendungan air siap jatuh dari balik kelopak mata Nurfa.
“Apa ini Tuhan??” Tiga kata meluncur dari bibir ranum Nurfa.
Seketika hadir dengan seksama kejadian di masa lampau. Saat Nurfa berbagi cerita dengan adik kecilnya yang baru duduk di bangku SMA. Mereka berbagi soal harapan satu sama lain yang ingin bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi.
“Kakak suka ekonomi, semoga bisa sekolah lagi.”
“Kenapa nada bicara Kakak seakan tak bernyali?”
“Ada banyak hal yang menjadi penentu harapan itu benar bisa Kakak raih Cil. Terlebih perihal keluarga yang belum tentu merestui. Karena, rekam jejak pendidikan keluarga yang belum pernah lanjut hingga ke perguruan tinggi.”
“Tapi Kakak mampu. Sayang jika harus berhenti.”
“Iya, semoga apa yang terjadi sesuai harapan yang ada. Cilik pun harus lebih giat belajarnya.”
“Kalau aku pingin jadi sarjana komunikasi Kak. Pingin ngembangin bakat nge-MC. Syukur-syukur bisa masuk televisi. Hahahaha...”
Dan kini.. pemilik mimpi itu telah pergi...
Di sisi lain, entah sejak kapan Atuz berdiri di hadapan Nurfa. Ia melambai-lambaikan tangan ke arah muka sahabatnya. “Kau kenapa?” Atuz bertanya.
“Kau menangis?” Atuz mengamati detail wajah Nurfa.
Kali kedua Nurfa mendapat pertanyaan, ia tersadar canggung dan langsung mengusap bercak jatuhnya air dari pelupuk mata sabitnya.
 “Ada apa?” tanya Atuz lagi.
Nurfa tidak menjawab. Ia malah berdiri mengimbangi tinggi Atuz dan menarik tangan sahabatnya untuk segera pergi dari gedung acara seminar tadi. Selepas itu, suasana menjadi sunyi. Kediaman Nurfa membuat Atuz salah tingkah. Sudah tiga kali Atuz bertanya, ia tidak mungkin mengulangnya sekali lagi.
Setetes, dua tetes, air mata Nurfa kembali mengalir deras. Dibalik kursi kemudi, Nurfa membisu pilu. Pikirannya melambung pada sederet kata yang baru saja dibacanya. Dikabarkan dalam banyak postingan, bahwa adik kecilnya kini telah berpulang. Yah, sakit tipes mengantarkannya kembali.
Tanpa pernah meminta, pemilik mata sabit itu terus saja disuguhi masa-masa penuh arti bersama adik kecil. Semua kenangan menyapa hingga kendalinya sedikit buyar dan mengundang gemetar dalam menyetir motor matic-nya.
“Bisakah aku menggantikan posisimu?” pinta Atuz dengan suara bergetar.
Dengan perlahan, Nurfa melambankan laju kendaraan. Namun bukannya bertukar tempat, berhentinya perjalanan mereka malah semakin memacu deras air mata Nurfa. Di peluknya Atuz yang masih ada di kursi penumpang. Kali ini, meledaklah tangisan Nurfa yang sedari tadi ia tahan.
“Dia telah kembali. Padahal baru pagi ini aku menemukan mimpi,” adu Nurfa dalam sesegukan. “Kau takkan meninggalkan aku juga kan?” pertanyaan susulan kembali Nurfa lontarkan, dan Atuz hanya mampu menggeleng tanpa bisa berkomentar.
Sengaja Atuz membiarkan sahabatnya menumpahkan segala rasa. Ia tidak ingin mengganggu. Adakalanya pendewasaan itu datang tanpa perlu nasihat. Karena menangis adalah satu diantara banyak senjata ampuh dari wanita dalam mengolah rasa.
“Sebulan lalu, aku bicara dengannya. Dia meminta saran tentang kampus yang support untuk pengembangan skill-nya. Meski baru naik kelas tiga SMA, persiapan Cilik begitu matang. Tekadnya dalam mewujudkan mimpi terlalu besar. Cilik, adik kecilku yang sangat menginspirasi,
“Aku memanggilnya Cilik, karena postur tubuhnya yang imut. Dan dia tidak pernah keberatan akan hal itu. Kutahu dia juga suka dengan panggilan yang kusematkan padanya, karena tatkala berbincang denganku, dia pun selalu menyebut dirinya dengan kata ganti yang sama. Cilik.,
“Kusebut juga ia gadis periang. Karena ia selalu berseri-seri. Selalu ceria. Mampu menebar bahagia. Tapi kini ia telah pergi dan takkan pernah kembali.” Jeda cerita Nurfa kembali dihiasi dengan sesegukan.
“Sudah hampir empat minggu ia terbujur di balik kamar yang dominan dengan warna putih. Kutahu kabar itu setelah banyak membaca postingan teman-teman di media sosial, yang itu artinya selama mengobrol denganku di satu bulan kemarin, kondisi Cilik dalam keadaan sakit. Bagaimana bisa aku tidak peka? Kemana nurani sensitifku selama itu?”
Kembali Nurfa merangkul Atuz. Ia tetap berisak tangis. Aliran air pun masih keluar. Mata sabit itu terus membendung. Meski ia sudah berbagi pada sahabatnya, tekanan dibalik rasa Nurfa seakan belum sepenuhnya tersalur. Dan di tengah haru keadaan, tiba-tiba ponsel Nurfa berdering. Kring… kring…kring…
“Bicaralah. Aku yang akan memarkirkan motor kita,” saran Atuz mengerti.
Dari kejauhan, Atuz hanya bisa memandang sahabatnya dengan mata membengkak. Atuz sengaja tidak mengambil jarak terlalu jauh, kepalang khawatir pada keadaan Nurfa yang belum bisa mengontrol rasa.
Sepintas Nurfa menoleh ke arah Atuz sambil melempar senyum. Dalam panggilan itu, terlihat Nurfa lebih banyak menjadi pendengar daripada ikut berbicara. Tak dikira dari tempat Atuz menunggu, bahasan Nurfa dalam panggilan dapat dijangkaunya. Hingga Atuz tahu, yang tengah diperbincangkan mereka adalah yang baru sahabatnya ceritakan.
Bersama sapuan angin, Atuz bergumam. Oh ini alasan kenapa kau tak berhenti menangis? Kau menaruh kekaguman pada adik kecil dan dia terinspirasi padamu. Adik kecil yang ingin lanjut kuliah di jurusan komunikasi, tapi Tuhan kirimkan kau lebih dahulu untuk dapat mengenyam jurusan tersebut. Rencana Tuhan tidak bisa diterka kawan.
Dengan menghela napas besar, Nurfa menyahut, “Yah apa yang kau katakan itu benar.” Sontak Atuz menoleh kaget. “Maaf aku tidak bermaksud menguping,” ucap Atuz bernada sesal. “Aku sengaja mengeraskan suaranya, karena kita ada di tepian jalan. Khawatir tidak terdengar.”
Keadaan menjadi sepi beberapa saat. Membuka percakapan, Atuz memberanikan diri kembali bertanya. “Kau kerap berdiskusi soal mimpi dengan adik kecil?” Nurfa mengangguk ringan.
“Kini, selain keluarga, mimpi Cilik akan menjadi pemompa semangatku dalam melanjutkan studi. Akan kubeli mimpi Cilik yang telah Tuhan titipkan. Meski aku tidak tahu harus memulai dari mana? Karena ini merupakan hal baru bagiku. Kau pasti membantuku kan?” Dalam bait kalimat Nurfa ada sinar semangat yang bisa Atuz rasakan, dan pertanyaan itu hanya mampu dibalas Atuz dengan pelukan haru persahabatan.




*Tulisan ini penulis didedikasikan untuk adik kecilnya yang telah mendahului...
Salam Rindu untuk Gadis Periang Dengan Sejuta Inspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini